Hina Rasulullah, Politikus Austria Dihukum

Suzanne Winter dihukum tiga bulan penjara dan denda Rp 341 juta atas tindakannya menghina Rasulullah SAW.

WINNA — Tak ada tempat bagi penghasut dan penyebar kebencian terhadap agama di negara mana pun. Seorang anggota Parlemen Austria, Suzanne Winter, dinyatakan bersalah karena tindakannya menghina Islam dan Rasulullah SAW. Pengadilan Tinggi Amsterdam, Belanda, juga siap mengadili Greet Wilder yang menebar hasutan dan kebencian terhadap Islam lewat film Fitna.

Pengadilan di Kota Graz, Austria tenggara, memvonis wanita politikus dari Freedom Party (FPOe) itu dengan hukuman tiga bulan penjara dan denda 31 ribu dolar AS atau sekitar Rp 341 juta. Hakim menilai, Winter telah terbukti menghina dan menghujat agama Islam. Wanita berusia 51 tahun itu telah menghujat dan menistakan Rasulullah SAW. Winter menyebut  Nabi Muhammad SAW sebagai seorang paedophilia karena menikahi wanita berusia enam tahun.

Hukuman itu lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa menuntut Winter hukuman penjara selama dua tahun. Kantor berita Austria, APA, melaporkan, Winter telah berkali-kali menyerukan hasutan dan kebencian terhadap Islam pada Januari 2008 lalu. Dalam sebuah rapat, Winter juga pernah berseru agar umat Islam diusir dari Eropa dan harus dikembalikan ke luar Laut Mediterania.

Pada sebuah diskusi dengan para pelajar, Winter pun menebarkan kebencian terhadap umat Muslim. Winter menyamakan pria Muslim dengan binatang buas yang sangat berbahaya bagi kaum wanita. Anggota parlemen itu juga berseru agar warga Austria menolak imigran Muslim. Winter tak bisa berkelit dari tuntutan yang diajukan jaksa.

Dalam persidangan yang digelar, Kamis (22/1) waktu setempat, Winter mengaku bersalah. Meski begitu, dirinya mengelak jika dinyatakan telah menghina agama Islam. “Saya tidak ingin menghina siapa pun, tetapi hanya menginginkan adanya jalan keluar dari masalah,” kilah  wanita yang juga berprofesi sebagai pengacara itu.

Winter berdalih, dirinya tak menginginkan Austria kedatangan pedophilia asing. Politikus dari partai yang katanya memperjuangkan kebebasan itu telah menuduh imigran Muslim di Austria sebagi paedophilia. “Mengapa saya tidak dapat berkata ini? Ini tidak ada hubungannya dengan kalimat kebencian. Kami tidak ingin Austria kedatangan paedophilia asing,” elaknya. Namun, pembelaan itu tak digubris hakim.

Kasus yang sama pernah dilakukan anaknya, Michael. Mantan pemimpin pemuda dari Partai Merdeka itu telah divonis dengan kejahatan yang sama pada akhir Oktober lalu. Michael divonis hukuman penjara karena telah menyebarkan hasutan dan permusuhan kepada kaum imigran Turki. Dalam sebuah laporan berkala, Michael telah menuding Muslim Turki sebagai komunitas yang buas, seperti binatang.

Sikap anti-Islam yang menjangkiti keluarga Winter itu berakhir di pengadilan. Keduanya sama-sama dihukum karena menghina dan merendahkan agama Islam. Mereka tak bisa mengatasnamakan kebebasan dengan seenaknya menghina dan menghasut ajaran sebuah agama.

Terkait kasus yang sama, seorang politikus dan anggota DPR di negeri Kincir Angin, Greet Wilders, juga akan diadili di meja hijau.  Pengadilan Tinggi Amsterdam memutuskan bahwa penghinaan terhadap Islam yang dilakukan Wilders dalam film Fitna bisa diadili secara hukum.  Pengadilan menilai, tindakan anti-Islam yang disebarkan Wilders sebagai perbuatan kriminal.

Selain itu, pengadilan juga menilai bahwa Wilders telah sengaja menghina simbol-simbol Islam. Keputusan Pengadilan Tinggi Amsterdam tersebut disambut baik warga Muslim Belanda yang kini jumlahnya mencapai satu juta orang. Sejak lama, seluruh Muslim di dunia berharap kasus penghinaan terhadap Islam itu diproses secara hukum. c63/earthtime

Sumber:  http://www.republika.co.id/koran/14/27805.html

Memang seharusnya begitu. Para penghina Nabi Muhammad SAW dan para penghina ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yaitu Islam, Harus dihukum. Sehingga membuat jera para pelakunya dan mencegah hal-hal serupa terulang lagi di kemudian hari.

Sekarang tantangan bagi pemerintah Indonesia yang memimpin negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, untuk juga menindak dan menghukum secara tegas para penghina Nabi yang ada di negeri ini. Seperti yang pernah terjadi pada beberapa bulan yang lalu dengan pembuatan  dan  posting komik cabul yang menghina Rasulullah Muhammad SAW pada salah satu blog (lapotuak.wordpress.com) yang sekarang blog tersebut sudah di suspend.

Namun sampai hari ini sayangnya pengusutan atas kasus ini tidak terdengar dan seakan ‘dikuburkan’. Harusnya para pemegang kebijakan hukum di negri ini malu dengan Autria dan Eropa negara yang didiami minoritas Muslim, ternyata  dapat memberi hukuman yang tegas terhadap penghina Rasulullah Muhammad SAW dan ajaran yang dibawanya: Islam.

BARACK H OBAMA; HARAPAN SEMU

obama

Banyak pihak berharap dengan kepemimpinan Barack Obama sebagai orang no 1 di US akan memberikan perubahan bagi keadaan keamanan, perekenomian, dan perdamaian dunia khususnya wilayah dunia ketiga (dunia Islam). Bagaimana kemungkinan-kemungkinan nya, simak beberapa laporan dibawah ini:

Krisis global yang melanda dunia saat ini ternyata sampai hari ini belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, bahkan arus PHK missal semakin bayak terjadi termasuk di negeri asalnya terjadi krisis yaitu Amerika sendiri.

Banyak pihak yang mengharapkan Obama mampu mengatasi krisis yang akan menyebabkan ‘Social disturbance’ di Amerika khususnya jika tidak cepat membaik. Namun banyak pihak juga yang meragukannya, karena krisis inn sudah berjalan makin parah, sementara tim ekonomi Obama baru start bekerja pertengahan January ini.

Satu hal yang menarik adalah bahwa resesi ekonomi telah terjadi secara periodic di AS. Menurut catatan The New York times, di AS sudah terjadi 7 kali resesi yaitu Desember 1969 – November 1970 (11 bulan), Nopember 1973 – Maret 1975 (16 bulan), January 1980 – Juli 1980 (6 bulan), Juli 1981 – November 1982 (16 bulan), Juli 1990 – Maret 1991 (8 bulan), Maret 2001 – Nopember 2001 (8 bulan) Desember 2007 (sudah 11 bulan sampai sekarang) dan diperkirakan masih berjalan panjang. Empat factor yang diukur sebagai criteria resesi adalah GDP, personal consumption, employment, dan housing prices. Mungkin saja ini tidak hanya resesi terpanjang dan terdalam sejak perang dunia ke II, sebagaimana disinyalir oleh Allen Sinai (President of Decision Economics in Lexington) ‘bahkan bisa jadi sebagai resesi terakhir yang akan menutup sejarah kapitalisme.’

Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO (International Labour Organization) memperkirakan tingkat pengangguran di dunia akan meningkat 210 juta orang pada akhir 2009 yang pada 2007 berkisar 190 juta orang, menyusul terjadinya krisis keuangan global. Para penganggur ini tidak hanya muncul di Negara dunia ketiga, tetapi di Negara maju sekalipun seperti yang sudah terlihat.

Obama akan mendapati situasi ekonomi AS layaknya pasien yang sedang sekarat. Utang AS mencapai 10 triliun dolar, sedangkan utang konsumen sebesar 11,4 triliun dolar. Utang perusahaan AS berkisar pada 18,4 triliun dolar, sehingga total utang berkisar 40 triliun dolar. AS juga lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor sehingga defisit perdagangannya sebesar 1 triliun dolar.

Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden seakan memberikan harapan baru dalam konstelasi politik Internasional. Namun, harapan seperti nya tinggal harapan. Sebagai sebuah Negara yang berbasis ideologi kapitalis, AS tidak akan banyak berubah. Obama seorang tidak bisa diharapkan dapat melakukan perubahan mendasar. AS tetap akan berusaha menguasai dunia dan dengan metode penjajahan mereka yang baku. Apalagi AS adalah sebuah system dengan banyak institusi; kelompok penekan, kelompok lobiYahudi, kelompok bisnis, kelompok militer yang akan mempengaruhi kebijakan AS.

Tidak lah mengherankan kalau orang-orang di sekitar Obama sangat pro Israel, seperti Hillary Clinton yang ditunjuk sebagai Menlu yang bersikap lebih keras dan lebih pro-Israel. Bahkan juga bersumpah akan “menghancurkan” Iran jika Negara itu berani menyerang Israel. Disamping itu Obama menunjuk Rohm Israel Emanuel, pendukung fanatic Negara Israel menjadi kepala staf gedung putih.

Terhadap pembantaian massal di Palestina, semakin sulit berharap akan terjadi perubahan mendasar atas kondisi Palestina. Negeri Islam itu akan tetap dijajah dan diperangi oleh Israel dengan dukungan penuh dari Negara adidaya AS. Sebelum serangan 27 desember 2008 Israel telah memblokade jalur Gaza yang telah mengakibatkan bencana kemanusiaan luar biasa, Anak-anak kekurangan suplai makanan yang bergizi, suplai energi terbatas, bahaya kelaparan dan wabah penyakit pun terjadi.

Berkenaan dengan Irak, obama akan melanjutkan agenda WOT yang sarat dengan kepentingan AS. Bahkan sebelum terpilih, ia telah berjanji menjadikan Afganistan dan Pakistan sebagai sasaran perang AS yang utama. Obama memang merencanakan menarik pasukan dari Irak, namun ia juga berencana mengirim pasukan yang lebih banyak lagi ke Afganistan.

Pada Jumat 21 Nopember 2008, ribuan warga Irak menggelar aksi protes menentang kesepakatan keamanan Amerika-Irak di Bagdad, yang diantara isinya; perjanjian dan kesepakatan untuk mempertahankan militer Amerika secara sah dan legal hingga akhir tahun 2011 M, lebih dari itu dalam naskah perjanjian disebutkan bahwa apapun aktivitas bersenjata untuk menentang militer AS dinilai sebagai aksi terorisme yang wajib ditumpas, bukan hanya oleh militer Amerika tetapi juga bagi pemerintah Irak. Mengenai kekayaan alam, dalam naskah tersebut disebutkan bahwa AS adalah penganggung jawab bagi perlindungan kekayaan alam Irak, yang bersumber dari pemasukan minyak, dengan kata lain AS lah yang menguasai kekayaan alam ini.

Krisis Mumbai yang terjadi pada rabu 26 November 2008 di India menjadi momen peneguhan melawan perang terorisme. Aryn Baker dalam Time (kamis, 27/11/2008) menyatakan krisis Mumbai tidak bisa dipisahkan dari ketidakadilan yang dirasakan Muslim minoritas India, termasuk Kashmir. Kondisi ini, menurutnya diperparah dengan kerusuhan di Gujarat tahun 2002 yang menewaskan lebih kurang 2000 orang yang sebagian besarnya adalah muslim.

Peristiwa ini juga sepertinya akan benar-benar dimanfaatkan oleh AS dan oleh pemerintah boneka AS di Pakistan dan Afganistan untuk menjalankan agenda war on terrorism.

Sumber:

  • Majalah Al Wai’ie desember dan januari
  • Tabloid mediaumat desember
  • Dari berbagai sumber

Video Komitmen Obama Terhadap Perdamaian Dunia

Download PDF

PENYELESAIAN KONFLIK ISRAEL – PALESTINA dalam PERDEBATAN

Tanggapan atas perdebatan dalam acara Today’s Dialog di Metro TV selasa 13 Januari 2009 Pk 10.00pm WIB berkenaan dengan cara penyelesaian krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina.

  • Rasulullah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang artinya: Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain, ia tidak akan menzaliminya dan tidak akan membiarkannya binasa. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat. (HR Muttafaq ‘alaih).

Jadi sungguh aneh jika ada seorang yang mengaku muslim tidak peduli, cuek, atau bahkan menyalahkan bentuk pembelaan (Jihad, Obat-obatan, Tenaga Medis, Dana Medis, dan lainnya) muslim yang lainnya terhadap nasib saudaranya sesama muslim yang sekarang menderita, atas serangan brutal Israel di Gaza Palestina.

  • Penjajahan dengan segala bentuknya; penjajahan secara fisik, ekonomi, pendidikan, politik, pemikiran dan Ideologi, diatas dunia harus dihapuskan. Fakta secara gamblang dapat diihat bahwa yang dilakukan oleh Israel, Amerika dan sekutunya adalah penjajahan dengan berbagai bentuk di negeri-negeri berpenduduk muslim.
  • Bantuan kemanusian seperti pengiriman tenaga medis, dana obat-obatan, dan lainnya sangat diperlukan oleh Muslim Palestina, namun bantuan ini tidak menyentuh titik permasalahan berjatuhannya korban, yaitu; serangan brutal Israel terhadap jalur Gaza Palestina yang sekarang sudah menelan sedikitnya 800 korban meninggal dunia dan 4000-an korban luka-luka.
  • Yang mestinya diusahakan oleh PBB ataupun pemimpin Negara-negara lainnya adalah upaya penyelesaian konflik, bukan upaya kompromi. Apalagi telah terbukti upaya kompromi yang pernah disepakati ternyata tidak menyelesaikan masalah.

Untuk penyelesaian konflik harus di diagnosa terlebih dahulu akar masalah yang menyebabkan munculnya konflik; yaitu berdirinya Negara penjajah Israel di Bumi Palestina tahun 1948M. oleh karena itu penyelesaian semestinya adalah pengusiran Israel dari wilayah Palestina.

  • Dialog-dialog seperti ini tidak akan pernah menemukan titik temu yang sama, disebabkan landasan pemikiran dalam pengambilan pendapat dan keputusan tidak sama.

Pembicara dari JIL (Jaringan Islam Liberal) memakai landasan kebebasan berpendapat.
Pembicara dari pemerintah memakai landasan kompromi.
Sementara itu pembicara dari PKS dan HTI memakai landasan yang semestinya digunakan oleh seorang muslim yaitu Islam.

Ketika seorang muslim sudah mengucapkan dua kalimat syahadat berarti dia telah mengikatkan dirinya dengan pandangan hidup dan pemikiran-pemikiran Islam, bahwa tiada Dzat yang diakui sebagai satu-satuanya Dzat yang berhak disembah- diibadahi, kecuali Allah SWT. Sebagaimana firmannya dalam:

TQS. Ad Dzariat-56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Baik dalam artian Ibadah Mahdah maupun Ghairu Mahdah, dan bahwa tiada cara beribadah kepadanya yang diterima kecuali yang datang dari Rasulullah Muhammad Saw., dan bahwa seluruh aktivitas hidupya harus berjalan sesuai dengan aturan Allah dan bahwa di akherat kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kesaksian dan komitmennya itu yang ia wujudkan dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatannya selama hidup.

TQS. Al Hasyr; 7. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

Download PDF

PERJANJIAN DAMAI ISRAEL – PALESTINA, PERLUKAH?

gaza-angry-reaction-to-israeli-attack-aljazeera4
Sampai tulisan ini dibuat sedikitnya sudah lebih dari 800 korban meninggal dunia dan lebih dari 3100 orang menderita luka-luka atas serangan brutal Israel ke penduduk Palestina di Gaza.
Sementara itu aksi penolakan dan pengutukan atas agresi ini terus bergema; baik itu di Indonesia sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dunia arab, bahkan sampai pada penduduk Negara barat sekalipun seperti di Eropa dan Australia.
Namun banyaknya jumlah korban meninggal dan menderita luka-luka serta aksi-aksi pengutukan tersebut tidak terlalu mendapat tanggapan oleh PBB dan Amerika yang mengaku sebagai Negara adidaya yang paling menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia dan mengaku yang paling depan melawan segala tindakan terror atau terorisme.
Sebagian pihak mulai menyerukan dan mengusahakan dibuatnya perjanjian damai antara Israel dan Palestina, sehingga dengan perjanjian damai yang dibuat tersebut diharapkan konflik antara Israel dan Palestina akan berakhir.
Tetapi yang menjadi pertanyaan besar adalah;
Pertama: apakah terwujud keadilan terhadap Palestina atas disahkannya suatu perjanjian?
Kedua: apakah dengan adanya suatu perjanjian, konflik antara Israel – Palestina akan berakhir?

Untuk jawaban atas pertanyaan pertama, coba kita renungkan analogi sederhana dibawah ini:

Bayangkan Anda adalah seorang kepala keluarga yang mempunyai keluarga yang sangat Anda cintai; Anda memiliki istri cantik dan penurut yang sangat Anda cintai, Anda memiliki anak-anak yang sangat Anda harapkan kehadirannya dan harapan masa depan terhadap mereka yang sangat cerah, dan Anda tinggal di dalam sebuah rumah yang sehari-harinya dipenuhi dengan kebahagian, keceriaan, dan kecukupan.
Kemudian pada suatu hari datang kelompok perampok membunuh beberapa anggota keluarga Anda, dan mereka merampas salah satu kamar dirumah Anda. Kehidupan yang sebelumnya penuh dengan kebahagian berubah menjadi kehidupan penuh rasa kebencian dan tidak aman terhadap diri Anda dan keluarga Anda yang lain. Kemudian ada orang yang mengusulkan agar Anda melakukan perjanjian damai dan menyerahkan sebagian wilayah rumah Anda kepada para perampok.
Apakah terdapat keadilan pada Anda terhadap perjanjian tersebut?
Jelas tidak ada keadilan dalam hal tersebut!!!
Nah seperti itulah yang terjadi terhadap penduduk Palestina. Sejak tahun 1948 mereka hidup dibawah bayang-bayang perlakuan biadab Israel terhadap keluarga mereka, bahkan diri mereka sendiri.
Untuk jawaban atas pertanyaan kedua;
Pertama; perjanjian damai bukanlah suatu solusi yang akan menyelesaikan aksi-aksi pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina,! Mengapa? Bukti sejarah telah mencatat bahwa setiap perjanjian yang disahkan ternyata selalu dilanggar dan mengembalikan terjadinya aksi-aksi pembataian selanjutnya.
Ingat yang diharapkan oleh penduduk muslim Palestina adalah penyelesaian konflik- ingat; PENYELESAIAN KONFLIK, bukan sebuah jeda ke konflik berdarah berikutnya.
Kedua; perjanjian damai dengan Israel sebenarnya hanyalah suatu solusi, keputusan, dan tindakan yang pengecut. Sebab dilihat dari akar masalah mengapa konflik antara Israel dan Palestina terjadi, adalah karena berdirinya Negara Israel di bumi Palestina (tahun 1948), kemudian mereka (Israel) melakukan ekspansi perluasan wilayah dengan cara merampas secara paksa wilayah-wilayah yang telah diduduki oleh rakyat Palestina, sehingga menimbulkan ribuan korban pada pihak Palestina. Sehingga keputusan yang harusnya diambil dan dijalankan adalah mengusir Israel dari Palestina.
Ketiga; sebagai seorang muslim wajib hukumnya meneladani dan mengikuti semua ajaran dan perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk ummatnya.
Berkaitan perjanjian dengan Yahudi, telah dicontohkan Rasulullah melalui perjanjian (Piagam Madinah) yang salah satu isinya disebutkan “Orang yang mengikuti kami dari kalangan Yahudi, maka baginya adalah pertolongan dan keteladanan. Mereka tidak dianiaya dan tidak saling menolong dalam menghadapi kaum Mukmin.

Dalam Piagam Madinah ini beberapa putusan yang sangat ditekankan adalah:

  1. Pertama; Kota Yastrib/ Madinah harus dihormati oleh pihak-pihak yang menandatangani perjanjian.
  2. Kejadian dan pertengkaran apapun yang timbul diantara pihak-pihak yang menyetujui perjanjian ini, sekiranya akan merusak perjanjian, maka tempat penyelesaiannya hukumnya adalah Allah dan Muhammad Rasulullah Saw.
  3. Tidak boleh menjalin kerjasama dengan kafir Quraisy dan tidak boleh memberi pertolongan kepada mereka.

Demikian perjanjian Rasulullah Saw. Disusun, kemudian perjanjian ini ditandatangani oleh kaum muslimin, dan Kabilah Yahudi yang berada di sekitar Madinah; Bani ‘Auf, Bani Najjar, Bani Harits, Bani Sa’adah, Bani Jasyim, Bani Aus, Bani Tsa’labah, Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa’.
Namun perjanjian dengan Rasulullah ini dilanggar oleh Kabilah-kabilah Yahudi, dengan pelanggaran terakhir yang dilakukan oleh Bani Quraizhah berupa pelanggaran bergabungnya mereka dengan pasukan Quraisy untuk memeragi kaum muslimin pada perang Ahzab.
Sama seperti nasib kabilah-kabilah Yahudi lainnya, Bani Quraizhah juga dihukum oleh Rasulullah Saw. Dengan melancarkan perang terhadap mereka. Sehingga tidak ada lagi kaum Yahudi di Madinah disebabkan karena pelanggaran terhadap perjanjian yang telah mereka sepakati bersama kaum Muslimin.
Jadi, masihkah perjanjian yang selalu dilanggar, dibuat-disahkan dan kembali dilanggar lagi. Padahal Rasulullah Saw. Teladan kaum muslimin telah mencontohkan apa yang harus dilakukan oleh kaum muslimin terhadap pelanggaran suatu perjanjian, tidak perlu membuat perjanjian baru lagi dan menimbulkan pelanggaran lagi.
Siapa lagi yang menaati dan meneladani Rasulullah, jika bukan kaum Muslimin sebagai bukti dan konsekuensi keimanannya terhadap Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt berfirman, yang artinya:
T.Q.S. An Nisa 65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
Sesungguhnya penyelesaian konflik sekarang dengan mengusahakan disahkannya sebuah perjanjian adalah sebuah penyelesaian pengecut yang terjadi akibat kaum Muslimin dengan jumlah milyaran di bumi ini tidak bersatu, tidak memiliki kekuatan seimbang, dan tidak memiliki sebuah kekuatan politik berupa sebuah Negara – Daulah Khilafah Islamiyah. Yang dengan adanya Daulah tersebut, ketaatan kaum muslimin kepada Allah SWT secara totalitas bisa dilaksanakan. Termasuk penyelesaian konflik Israel-Palestina bisa terselesaikan dengan mengerahkan pasukan Jihad secara terorganisir.

T.Q.S. Al Baqarah-190. dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

KONFLIK ISRAEL PALESTINA MUNGKINKAH BERAKHIR?

gaza-aljazeera6

Mei – April 1948

14 Mei 1948, di bumi Palestina, Israel memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Sebuah kemerdekaan yang sejak awal patut dipertanyakan, merdeka dari siapa? Peristiwa yang bersejarah itu, menjadi tonggak berdirinya negara yang penuh darah di negeri Islam yang diberkati Allah SWT itu. Penderitaan umat Islam Palestinapun tak terperikan. Saat berdiri, Israel mengusir sekitar 1 juta warga Palestina, merampas hak milik warga Palestina, mencaplok puluhan kota dan ratusan desa. Teror dan pembantaian terjadi dimana-mana. Terjadilah peristiwa Deir Yasin 10 April 1948 sekitar 254 muslim Palestina terbunuh 100 diantaranya adalah anak-anak dan wanita). Unit 101 yang didirikan Moshe Dayan, menteror warga Palestina. Pada tahun 1948 tercatat 385 dari 475 desa Palestina  dibuldoser sehingga rata dengan tanah.

 Juni 1967 – Oktober 1979

7 Juni 1967 Yahudi merampas bagian timur kota al-Quds; merampas kunci-kunci pintu barat Masjid al-Aqsha. 21 Agustus 1969 Teroris Yahudi, Danis Rohan, merangsek masuk ke halaman Masjid al-Aqsha, dan berhasil memasuki mihrab. Pada 9 September 1972 terjadi serangan udara di Suriah, dengan target para pengungsi Palestina, sekitar 500 orang meninggal dunia. Pada tahun 1974, Israel berada di balik pembantaian sekitar 15 ribu warga Palestina di Kamp Pengungsi Tel Zataar. Para pengungsi malang tersebut dibantai oleh milisi Kristen garis keras yang dipersenjatai dan dibina Pemerintah Buruh Israel. Israel juga menyerang Lebanon pada 9 november 1977, sekitar 300 orang terbunuh. 14 Agustus 1979 Ghorshon Salomon, kelompok radikal Yahudi, merangsek masuk ke Masjid al-Aqsha, meski gagal. 11 Oktober 1979 Polisi Israel melepaskan tembakan dan gas air mata terhadap jamaah shalat sehingga banyak yang terluka.

 April 1980 – Mei 1989

19 April 1980 Para pendeta Yahudi mengadakan kongres di al-Aqsha. 28 Agustus 1981 Yahudi menggali terowongan di bawah halaman Masjid al-Aqsha. 20 Maret 1982 Berbagai kelompok Yahudi radikal memanfaatkan hasil kongres pendeta Yahudi di atas untuk mengirimkan ancaman terhadap Kementerian Waqaf Islam. 11 April 1982 Teroris Yahudi, Goldman, merangsek memasuki masjid lewat pintu al-Ghawanemah. Dia pun mengancam akan merobohkan Masjid Qubbah Shakhra. Pada bulan Juni 1982 terjadi serangan terhadap kamp pungungsi yang menewaskan 3500 orang sebagian besar adalah anak-anak dan wanita. Sabra dan Satila menjadi saksi bisu kekejaman Israel, saat negara itu dengan bantuan milisi kristen Lebanon membantai lebih dari 100 orang pengungsi Palestina. Di tahun ini 18 ribu orang tewas dan 30 ribu lainnya cedera menjadi korban. 20 Januari 1983 Organisasi Yahudi Amerika menggalang dana untuk mendirikan haikal di atasnya. 26 Mei 1983 Bangunan Kementerian Waqaf Islam roboh setelah digali terowongan di bawahnya. 21 Agustus 1985 Kepolisian Yahudi mengizinkan pelaksanaan ritual Yahudi di Masjid al-Aqsha jika ada minimal 10 orang yang memintanya. 2 Juli 1988 Departemen Agama Israel menggali terowongan di dekat pintu al-Ghawanemah; Mahkamah Israel mengizinkan warganya menunaikan ritual di Masjid al-Aqsha. Selama intifadha hingga Mei 1989 sekitar 7500 muslim Palestina terbunuh. Dan pembunuhan demi pembunuhan terjadi hingga sekarang ini. Pasca Konferensi Perdamaian Annapolis november tahun lalu 350 orang warga Palestina yang terbunuh.

 Juli 1996 – Agustus 1999

27 Juli 1996 Kelompok Yahudi yang menyebut dirinya sebagai ‘Penjaga Haikal’ merangsek ke halaman Masjid al-Aqsha. 25 September 1996 Terowongan digali di bawah masjid suci itu. 13 Mei 1998 Sejumlah pemukim Yahudi melakukan pembakaran terhadap salah satu pintu utama masjid tersebut. 10 Agustus 1999 Yahudi melakukan penutupan terhadap jendela dinding masjid di bagian selatan, yang menyebabkan penerangan di masjid tersebut gelap gulita.

 Agustus 2001

Pada Jumat dini hari (10/8) tentara Israel menduduki Orient House, gedung legendaris milik Palestina di Yerusalem Timur, dan mengibarkan bendera Israel di atas gedung tersebut, serta menahan tujuh penghuninya. Israel juga mengambilalih secara paksa sembilan kantor Palestina di Abu Dis yang berdekatan dengan kota Yerusalem Timur. Abu Dis dirancang oleh otoritas Palestina sebagai pusat kantor parlemen Palestina. Dan mereka menjadikan gedung Orient House sebagai simbol keberadaannya di Yerusalem Timur.

 Maret 2004

Syaikh Yasin, pendiri Hamas berusia 67 tahun yang tidak pernah lepas dari kursi roda, dibunuh secara brutal melalui serangan udara Israel sesaat setelah keluar dari masjid usai shalat Shubuh di Jalur Gaza 22 Maret. belum sebulan kemudian, Abdul Aziz ar-Rantissi, pengganti Syaikh Yassin, juga mengalami hal yang sama.

 Desember 2008

Israel sang negara teroris sekali lagi membantai muslim di Gaza, padahal pejabat Israel telah membocorkan informasi tentang akan adanya serangan sejak dua minggu lalu dimana tidak akan ada siapapun yang selamat. Bahkan pejabat Israel juga menyebutkan bahwa Israel menunggu cuaca yang baik agar bisa membantai dengan baik.  Pada Sabtu pagi tanggal 27 Desember di tengah hiruk pikuk kesibukan, pembantaian di mulai.

Gelombang serangan pertama terjadi secara terkoordinasi dalam tempo 3 menit dengan melibatkan 60 jet F-16 menyerang 50 titik target infrastruktur Gaza yang masih tersisa. Gelombang kedua menghancurkan markas HAMAS (perlu diingat bahwa markas tersebut terletak di tengah populasi warga sipil). Dalam satu jam serangan pertama, 155 korban tewas dan jenazah korban terus berdatangan dan memenuhi rumah sakit.

Israel membenarkan aksinya sebagai tanggapan terhadap tingkat serangan roket terhadap wilayahnya yang diluncurkan dari Gaza. Menlu Israel Tzipi Livni membela serangan udara ini dengan berkata dalam siaran TV, “Israel tidak punya pilihan. Kami melakukan apa yang kami harus lakukan untuk melindungi warga kami.” Israel menuduh HAMAS, yang memenangkan pemilu 18 bulan lalu dan didukung oleh Iran, sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap serangan roket ini.

Israel memang selalu mengkambinghitamkan HAMAS sebagai kelompok Islam radikal yang bertujuan menghapus Israel, padahal Israel telah memblokade Gaza sejak lama. Secara rutin, Israel menutup jalur penyeberangan perbatasan menuju Gaza, yang berakibat pada kelaparan massal. Dalam sebulan terakhir, penyeberangan menuju ke Gaza dibuka selama 5 hari saja. Perwakilan PBB untuk Gaza menggambarkan situasi yang menyedihkan sebagai berikut,”Tiap hari adalah perjuangan untuk tetap bertahan hidup. Warga benar-benar kelaparan. Semua serba kekurangan, termasuk makanan yang sempat habis selama dua hari, dan fakta yang semakin memburuk yang bisa berakhir kepada kepahitan… kami berusaha keras mencari alasan untuk memiliki harapan yang realistis.”

Tanggapan dunia pun sudah bisa diduga. Israel tetap menjadi anak favorit bagi Barat. PM Inggris Gordon Brown dalam wawancara dengan BBC mengatakan bahwa ia ‘sangat prihatin’ dan mengatakan bahwa milisi Palestina harus menghentikan serangan roket terhadap Israel, meskipun Palestina adalah pihak yang diserang dan Muslim dibantai.

Dalam wawancara dengan Al-Jazeera, Azzam Tamimi, direktur Institut Pemikiran Politik Islam (Institute of Islamic Political Thought) dan pakar masalah Palestina, menggambarkan pengamatannya sebagai berikut, ” Saya duga operasi militer ini tidak hanya terbatas tapi juga berusaha untuk mengganti penguasa di Gaza, kalau tidak, kenapa Israel juga mentargetkan jajaran kepolisian? Yang menembakkan roket di Israel bukanlah para polisi dan  polisi bertugas untuk menjaga keamanan di Gaza. Operasi ini ditujukan untuk menciptakan kekacauan dan kemungkinan besar Mesir dan Ramallah berkolusi dalam hal ini. Tidak mungkin berani Israel melancarkan serangan dalam skala sebesar ini tanpa adanya ijin dari kalangan tertentu, seperti Amerika, Eropa, dan juga Mesir dan Ramallah.”

Itulah beberapa konflik yang dilahirkan oleh Negara teroris Israel, mungkinkah konflik yang menewaskan kaum muslimin Palestina ini akan berakhir? Sampai berapa nyawa lagi harus terbunuh oleh kekejaman Israel di bumi Palestina? Berapa banyak perundingan lagi harus disahkan agar Muslimin Palestina dapat merasakan hidup tenang dan aman?

Sungguh, konflik serupa akan terus terjadi, banyak nyawa manusia akan terbunuh, dan berbagai macam perundingan hanya akan membuat larut penyelesaian permasalahan ini. Hadis Rasulullah saw. yang dituturkan Abdullah bin ‘Amru, bahwa Nabi saw. bersabda:

 Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada membunuh jiwa seorang Muslim

(HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibn Majah; lafazh menurut at-Tirmidzi).

 Sudah saatnya kaum muslimin yang ada di 57 negara anggota OKI dan yang berada di Negara-negara lainnya bersatu padu untuk untuk menegakkan satu kepemimpinan Negara Khilafah Islamiyah sebagaimana dulu dicontohkan oleh Rasulullah, para khulafaur rasyidin, dan para khalifah. Karena hanya dengan negara yang diridhoi Allah inilah penyelesaian tragedi Palestina dapat diselesaikan dengan pelaksanaan Jihad secara terorganisir.

Download PDF

60 Tahun Derita Palestina, Sampai Kapan?

gaza-aljazeera3

Sungguh kami telah berada di pihak Israel sejak berdirinya dan kami akan selalu bersama Israel sepanjang sejarahnya” (Collin Powel, 19 Maret 2001)

60 tahun yang lalu, 14 Mei 1948, di bumi Palestina, Israel memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Sebuah kemerdekaan yang sejak awal patut dipertanyakan, merdeka dari siapa ? Peristiwa yang bersejarah itu, menjadi tonggak berdirinya negara yang penuh darah di negeri Islam yang diberkati Allah SWT itu.

Penderitaan umat Islam Palestinapun tak terperikan. Saat berdiri, Israel mengusir sekitar 1 juta warga Palestina, merampas hak milik warga Palestina, mencaplok puluhan kota dan ratusan desa. Teror dan pembantaian terjadi dimana-mana. Terjadilah peristiwa Deir Yasin (10 April 1948) sekitar 254 muslim Palestina terbunuh 100 diantaranya adalah anak-anak dan wanita). Unit 101 yang didirikan Moshe Dayan, menteror warga Palestina. Pada tahun 1948 tercatat 385 dari 475 desa Palestina  dibuldoser sehingga rata dengan tanah. Saat ini diperkirakan terdapat 6 juta pengungsi Palestina yang menderita di kamp-kamp pengungsi.

Hollocaust (pembantaian masal) oleh Zionisme Israel terus terjadi. Di Douimah (28 oktober 1948) diperkirakan sekitar 1000 orang terbunuh, Kafr Kassim (29 Oktober 1956) 49 orang terbunuh. Tidak berhenti sampai disana, bagaikan hewan ternak yang harus dibunuh, muslim Palestina dikejar hingga keluar perbatasan Palestina. Pada 9 September 1972, terjadi serangan udara di Suriah , dengan target para pengungsi Palestina, sekitar 500 orang meninggal dunia. Israel juga menyerang Lebanon dengan target yang sama pada 9 november 1977, sekitar 300 orang terbunuh.

Tidak hanya itu, kamp-kamp pengungsi Palestina pun menjadi sasaran serangan . Pada bulan Juni 1982 terjadi serangan terhadap kamp pungungsi yang menewaskan 3500 orang sebagian besar adalah anak-anak dan wanita. Sabra dan Satila menjadi saksi bisu kekejaman Israel, saat negara itu dengan bantuan milisi kristen Lebanon membantai lebih dari 100 orang pengungsi Palestina. Selama intifadha hingga Mei 1989 sekitar 7500 muslim Palestina terbunuh. Dan pembunuhan demi pembunuhan terjadi hingga sekarang ini. Pasca Konferensi Perdamaian Annapolis november tahun lalu 350 orang warga Palestina yang terbunuh.

 

Dukungan Negara Barat Imperialis

Berdirinya Israel tidak bisa dipisahkan dari gerakan Zionisme yang didukung negara-negara imperialis Barat. Sejak mendeklarasikan gerakan Zionisme (1996) , Theodor Herzl mulai berkerjasama dengan negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Rusia mewujudkan cita-citanya mendirikan negara Israel di bumi Palestina.

Theodero Herzl dalam kongres I Zionis di Basel Swiss mengeluarkan resolusi bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun bangsa yang dengan tekad bulat untuk hidup berbangsa dan bernegara. Di depan kongres itu Herzl berkata : ” dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi”,. Meskipun awalnya dipandang sebelah mata, namun dengan kegigihannya, janji Herzl terwujud pada tahun 1948.

Cita-cita Herzl sejalan dengan negara-negara Imperialis yang memang banyak didominasi oleh elit Yahudi. Keberadaan negara Israel di jantung Timur Tengah tentu saja akan bermanfaat bagi negara-negara Imperialis. Negara Israel bisa dijadikan alat untuk berbagai kepentingan politik. Pernyataan Ezer Weizman mencerminkan hal itu :  “Seandainya tidak ada Israel, maka tidak ada pihak yang mampu membantu kepentingan kerajaan Inggris.”

Sementara AS menggunakan negara Israel untuk terus menerus menjadi sumber konflik di Timur Tengah. Konflik inilah yang menjadi alasan AS untuk masuk ke Timur Tengah. Negara Yahudi ini dipastikan menjadi  mitra sejati, karena persamaan ideologi dan kepentingan.

Tidak heran kalau jauh sebelum tahun 1948 , negara Barat dengan penuh sistematis mendukung berdirinya negara Israel ini. Pada tahun 1916, Inggris, Perancis dan Rusia melakukan perjanjian rahasia Sykes-Picot, untuk memisahkan wilayah Arab dari Khilafah Ustmaniyah dan memecahbelah menjadi negara-negara kecil, termasuk kawasan Palestina.

Dukungan itu semakin kokoh, ketika menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour memberitahu pimpinan Zionis Inggris , Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dan membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian LBB memberikan mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina. Berdirinya negara Israel diperkuat lagi dengan keputusan  PBB tanggal 29 Agustus 1947 yang membagi Palestina , sebagian untuk Yahudi dan sebagin lagi untuk Arab.

Hingga saat ini dukungan itu terus mengalir. Tanpa perduli negara zionis ini telah melakukan pelanggaran kemanusiaan yang luar biasa. Collin Powel saat menjadi menlu AS pernah berpidato di depan senat  (5/03/2001): ”Israel adalah negara sahabat dan sekutu yang kuat bagi bangsa AS dan pemerintahan AS, menjamin keamanan Israel adalah priotes utama”.

Hal yang senada dinyatakannya  di depan lobi Yahudi terkuat di AS (AIPAC) pada 19 maret 2001.” Sungguh kami telah berada di pihak Israel sejak berdirinya dan kami akan selalu bersama Israel sepanjang sejarahnya”, tegasnya. Dick Cheney, saat berkunjung ke Israel , juga mengatakan hal yang sama.

Tidak heran kalau negara Israel merupakan penerima bantuan AS yang terbesar sejak perang dunia kedua. Sejak perang Oktober 1972 Washington sudah memberikan bantuan langsung ekonomi dan militer kepada Israel sebesar US$140 milyar atau Rp 1.260 trilyun. Sejak 1976 hingga sekarang setiap tahun AS memberikan bantuang langsung kepada Israel sebesar 3 milyar dollar, seperenam dari anggaran bantuan luar negerinya.  

Israel bisa membeli peralatan militer langsung ke pabrik senjata di AS tanpa melalui Pentagon. AS membantu 3 milyar dollar bagi pengembangan senjata Israel. Israel diberikan akses informasi ke sejumlah pesawat tempur canggih seperti blackhawk dan F 16. Sementara kepada sekutu NATO-nya di Eropa informasi ini ditutup.  

Untuk menunjukkan dukungannya kepada Yahudi, Bush menandatangani UU Pengkajian Anti Smith Global (oktober 2004). Berdasarkan UU ini kementerian luar negari AS harus memberikan laporan tahunan soal tindakan anti-smith diseluruh dunia.

Washington juga telah memveto 32 resolusi yang merugikan Israel sejak tahun 1982. Tidak ketinggalan  calon presiden AS juga harus menunjukkan kesetiaannya kepada Israel. Obama dengan tegas menyatakan akan mendukung penuh negara Zionis itu. Sementara Hallary sampai-sampai mengatakan akan menyerang Iran jika Israel diserang Iran.

Kandidat presiden Partai Demokrat, Barack Obama mengatakan dia akan melakukan apapun semampunya untuk menjamin keamanan Israel dan melindungi hubungan yang ada antara Amerika Serikat dan Israel.”Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin kemanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” kata Obama dalam sebuah acara yang disponsori oleh Kedutaan Besar Israel di Washington untuk menghormati hari jadi negara Israel yang ke-60.(Farid Wadjdi, Mei 2008)

 

Download PDF

 sumber

http://hizbut-tahrir.or.id/2008/05/16/60-tahun-derita-palestina-sampai-kapan/