Golput Haram, Buah dari Hilangnya Kepercayaan Rakyat!

Adanya golput pada saat pemilu, memang tidak pernah lepas dari setiap penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Sejak tahun 1955 tercatat partisipasi masyarakat dalam pemilu tahun itu sekitar 90 persen, kemudian pada pemilu 2004 tercatat partisipasi menurun sekitar 77 persen. Sehingga wajar jika muncul kekhawatiran angka golput pada pemilu tahun 2009 ini akan meningkat.

Coba saja lihat persentase hasil pemilihan pada beberapa pilkada yang telah dilaksanakan, sebagai contoh pilkada di Jawa Timur:

pilkada-jawa-timur

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemenang Pilkada Jatim adalah golput (39.20 persen; Kompas, 24/7).

Melihat data seperti ini, membuat sebagian orang yang berkepentingan untuk memenangkan pemilu, mencari jalan bagaimana supaya pemilu yang akan dilaksanakan ditahun 2009 ini, angka golput bisa ditekan. Salah satu upayanya seperti dilakukan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan (MPR) Hidayat Nur Wahid yang meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terhadap golongan putih. Hidayat menilai fatwa haram terhadap Golput bisa mendongkrak keikutsertaan pemilih dalam Pemilu 2009. “MUI harus mengharamkan golput,” katanya di Gedung MPR/DPR (12/12/2008-tempointeraktif.com)

Akhirnya pada tanggal 24-25 Januari 2009 dalam Forum Ijtima Ulama III Majelis Ulama Indonesia (MUI) dikelurkanlah fatwa yang salah satunya dianggap sebagai fatwa pengharaman terhadap golput.

Namun fatwa ini seakan dikeluarkan secara pragmatis dan tanpa analisis lebih mendalam, apa sebenarnya yang menjadi penyebab tingginya angka Golput.

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab Golput, diantaranya adalah:

Pertama; tingginya angka golput menunjukkan bahwa rakyat saat ini semakin pesimis terhadap suatu perubahan akan dapat terjadi melalui ‘pesta demokrasi’ yang hanya memilih sosok/wajah wakil ataupun pemimpin. Fakta yang kita bisa lihat, trilyunan rupiah uang rakyat telah dikucurkan untuk penyelenggaraan pemilu, namun pemimpin yang terpilih tidak mampu mewujudkan perbaikan ditingkat kehidupan rakyat. Justru yang mendapat perbaikan hanya terbatas pada pemimpin dan keluarganya serta partai-partai yang menjadi pendukungnya saat pemilu. Sementara rakyat; selalu di nomor duakan.

Belakangan ini sering muncul iklan kampanye yang intinya memperlihatkan/membanggakan penurunan harga BBM hingga tiga kali, yang tidak pernah dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya. (insert; Jangan berbangga diri lah, toh Anda juga kan kemaren yang menaikkan harga BBM, dan apakah mungkin Anda dapat menurunkan Harga BBM jika Harga Minyak Dunia tidak sedang anjlok akibat krisis???)

Coba Anda simak berita dibawah ini terkait melonjaknya harga minyak dunia. Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada APBN 2008. Penegasan tersebut disampaikan Presiden usai melantik Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) baru, Laksamana Madya Sumardjono, di Istana Negara, Rabu (7/11). “tidak ada opsi itu, karena kita cari solusi yang lain, yang cespleng. Paling tidak mengurangi dampak tanpa harus menimbulkan permasalahan pada masyarakat luas. Insya Allah kita carikan jalan terbaik,” kata presiden kepada wartawan (http://www.presidensby.info – Dengan judul “Pemerintah Tidak Akan Naikkan BBM” diposting pada 7 November 2007, juga diposting pada http://www.indonesia.go.id) Namun setelah kenaikan BBM Mei 2008 berita ini hilang dari situsnya. Janji tinggallah janji, janji yang diucapkan pada saat menjabat saja sulit untuk ditepati, apalagi janji yang diucapkan jauh sebelum jabatan dipegang …?

Kembali ke penyebab tingginya angka golput, selain dari janji-janji kosong terhadap perubahan yang menyebabkan kepercayaan rakyat terhadap terjadinya perubahan melalui penyelenggaraan pemilu menjadi luntur. Penyebab kedua adalah system yang diterapkan di Indonesia tidak mengalami perubahan/ pergantian secara mendasar. Masih tetap saja memakai sistem yang diinginkan oleh penjajah, coba Anda lihat penguasaan PT. Freeport dalam mengeruk kekayaan alam Papua; dimana sejak era orde baru beroperasi sampai hari ini, dengan lima kali pergantian presiden kekayaan alam tersebut masih dinikmati oleh Freeport dan hanya sebagian kecil yang bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia. Serta banyak lagi kekayaan alam Indonesia yang dikuasai oleh swasta ataupun asing, dimana rakyat hanya bisa menggerutu dan gigit jari menyaksikan hal tersebut terus terjadi melalui kebijakan yang dibuat oleh para pemegang kebijakan.

Baik buruknya masyarakat atau Negara ditentukan oleh dua pilar, pemimpin dan sistem yang dijalankan. Pemimpinnya baik tapi sistemnya buruk tidak akan mengubah keadaan secara mendasar. Sebaliknya, sistemnya baik tapi pemimpin buruk, juga akan membawa kegagalan. Jadi yang dibutuhkan oleh kita semua adalah kedua-duanya, yaitu; pemimpin yang baik, ahli serta amanah dan penerapan sistem yang baik pula.

Walhasil selama penyelenggaraan pemilu hanya berkisar pada pemilihan sosok/ wajah para wakil dan pemimpin rakyat saja, tanpa melakukan perubahan secara mendasar dalam sistem kehidupan, maka jangan salahkan rakyat jika angka golput pada 2009 ini meningkat dan akan meningkat lagi pada pemilu di periode berikutnya.

Oleh karena itu, sebagai umat Muslim yang mempunyai sosok teladan terbaik yaitu Rasulullah Saw, dimana beliau telah memberikan contoh jalan/ sistem yang khas dalam mengurusi permasalahan umat- tidak hanya umat Islam, melalui sebuah Negara. Agar lebih mengkaji/mendalami lagi bagaimana cara beliau dalam mengurusi sebuah Negara melalui sistem Negara Islam yang diterapkan secara menyeluruh.

apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. T.Q.S. Al Hasyr Ayat 7

Download PDF
Iklan

Valentine Day, Perayaan Gado-Gado!!!

39668

Awal Mula Perayaan Valentine

Berdasar hasil search sejarah valentine day pada om google, valentine adalah merupakan sebuah perayaan disaat zaman pagan kuno (Romawi dan Yunani) yang masih menyembah para dewa-dewa. Menurut kebudayan tersebut bulan februari dikenal sebagai bulan cinta dan kesuburan. Dalam kalender Athena Kuno, bulan January sampai February disebut sebagai bulan Gamelion, atau bulan suci memperingati pernikahan dewa Zeus dan Hera. Sedangkan di Romawi Kuno 15 February dikenal dengan hari raya Lupercallia, hari untuk memperingati dewa Lupercus (dewa kesuburan).

Lupercallia sendiri berlangsung antara 13-18 Februari dengan puncaknya adalah tanggal 15 February. Hari ke 13-14 dipersembahkan untuk dewi Cinta Juno Februata (Queen of Feverish Love). Hari tersebut dirayakan dengan pengundian nama-nama gadis yang telah dikumpulkan dalam sebuah wadah oleh beberapa pemuda, kemudian setiap pemuda mengambil secara acak nama gadis yang menjadikan si pemuda berhak untuk bersenang-senang dan menghibur diri dengan gadis yang namanya terambil selama satu tahun. Selanjutnya jika terjadi kecocokan dilanjutkan dengan pernikahan, namun jika tidak maka tahun berikutnya mereka bisa berganti pasangan (Insert: emang Baju).

Versi lainnya; Pada masa kaisar Romawi, Claudius II lagi berkuasa, ada undang-undang yang melarang pernikahan buat para pemuda. Alasannya para pemuda sangat diperlukan untuk jadi tentara demi membela negara. Tetapi ada seseorang seorang pastur yang namanya Valentine, yang kemudian dipenjarakan karena telah menikahkan sepasang pengantin.

Ternyata penguasa itu belum cukup puas, dan akhirnya menghukum mati pastur tersebut pada tanggal 14 Februari 249 M. Cerita yang mengharukan ini membuat hati Paus Gelasius lunglai, dan pada tahun 469 M, dia menjadikan tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang atau Valentine’s Day demi menghormati pengorbanan Pastur Valentine yang rela mati untuk cinta.

Versi lainnya lagi The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998). Dan masih banyak lagi versi lainnya.

Sehingga dapat dibilang valentine’ day atau hari kasih sayang yang banyak dirayakan khususnya para pemuda-pemudi zaman sekarang merupakan perayaan campur aduk. Bahkan sampai kini tidak ada kesepakatan diantara para sejarawan, apakah sosok Valentine memang ada atau hanya sekedar dicocok-cocokan saja.!

Penjajahan melalui budaya

Walaupun banyak yang tidak mengetahui secara jelas asal muasal perayaan Valentine’s Day namun banyak dari para pemuda-pemudi di negeri ini khususnya para generasi muslim yang latah mengikuti perayaan-perayaan yang berasal dari kebudayaan hidup barat yang notabene bersifat serba bebas tanpa memperhatikan nilai Halal-Haram.

Dari sekian banyak cerita (dari om google juga) ternyata Valentine’ Day atau hari kasih sayang lebih hanya untuk melegalkan perilaku seks bebas di kalangan para pemuda. Dengan dalih membuktikan perasaan cinta dan kasih sayang seorang gadis merelakan keperawanannya terhadap laki-laki yang belum sah menjadi suaminya. Sedikit sekali perayaan ini dirayakan dengan berkasih sayang dengan orang yang mestinya disayangi seperti Ibu dan Ayah.

Dalam hal ini sosiolog Islam Ibnu Khaldun menyatakan: “Yang kalah cenderung mengekor yang menang, dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk di sini adalah mengikuti adat istiadat mereka.”

Memang tidak dapat dipungkiri kebiasaan hidup Islami yang dulunya dimiliki bangsa ini lama kelamaan tergerus oleh arus budaya yang setiap hari bahkan jam di kampanyekan oleh media-media besar di negeri ini. Sehingga wajar perayaan-perayaan seperti Valentine’s Day, Hallowen, April Mob, dan lainnya dengan mudah diadopsi oleh para generasi muda bangsa ini.

Hukum Merayakan V-Day

Islam adalah ajaran yang berisi tuntunan bagi manusia untuk menjalani kehidupan dunia ini agar berjalan dengan harmonis dan tentram, yang mencakup seluruh aspek dalam kehidupan.

Oleh karena itu seorang muslim yang telah dengan ikhlas (tanpa paksaan) mengakui bahwa Allah SWT. sebagai Tuhannya dan Nabi Muhammad Saw sebagai nabinya, tidak berhak sama sekali ia menjalankan perilaku gaya hidup yang tidak diajarkan oleh Islam. Dan juga dilarang merayakan perayaan-perayaan yang bersumber dari ajaran-ajaran di luar Islam.

Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw. telah memperingatkan dengan sabdanya:

“Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai (tingkah laku dan sikapnya) umat selain umat Islam” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits lain:

“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka mereka termasuk golongan tersebut” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Dalam hadits diatas terdapat larangan tegas bagi seorang muslim untuk mengikuti ataupun menyerupai suatu kaum diluar Islam, terkait dengan pemahaman-pemahaman dan pandangan dalam menjalani kehidupan ini.

Jadi; tidak ada alasan yang bisa dibenarkan oleh ajaran Islam untuk merayakan V-Day, atau dengan kata lain hukum merayakan V-Day adalah Haram. Ingat HARAM bagi ummat Islam.

QS. Al- Hasry ayat 7

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

Download PDF

Islam Menanggulangi Agenda Tahunan Banjir

Sejumlah warga di DesaTambak Baru Kecamatan Marta­pura Kota langsung meng­hentikan kegiatannya saat rombongan mobil dinas milik pejabat Pemprov Kalsel ber­henti di depan kantor desa. Udin (40), warga setempat mengira, kehadiran pejabat itu untuk menyerahan bantuan banjir.

Namun, dia hanya bisa menelan kekecewaan saat mengetahui kedatangan me­reka hanya sekadar meninjau lokasi banjir. Itu pun hanya sebentar. Tak sampai 15 menit, iring-iringan mobil peja­bat yang dipandu Camat Mar­tapura Kota, Drs Ahmad Hai­ruddin Fahri dan Kadisos Banjar Drs Rendra Fauzi MAP itu, langsung membubarkan diri.

“Kami kira mau menye­rahkan bantuan, ternyata Cuma lihat-lihat saja,” ujar Udin sambil membersihkan rumahnya yang kebanjiran.

Kepala Desa Tambak Baru, Zainal Arifin tak bisa menu­tupi kekecewaannya melihat sikap pejabat Pemprov Kalsel itu. Sebagai kepala desa, dia sengaja menyambut rombong­an agar bisa menjelaskan kondisi pasca banjir.

“Hanya beberapa pejabat yang turun dari mobil. Itu pun hanya sebentar. Tak lebih 15 menit, rombongan lang­sung bubar. Padahal saga ingin menyampaikan per­mintaan warga, agar jalan desa yang rusak bisa diper­baiki,” ujar Zainal.

polinmas Kalsel, Drs Fakh­ruddin, tak memungkiri ke­hadirannya di Desa Tambak Baru hanya sekadar melihat-lihat lokasi banjir. Dia pun be­lum bisa memastikan bantu­an yang bakal diberikan Pem­prov Kalsel terhadap para korban banjir.

Kita lihat-lihat dulu. Kita inventarisasi lokasi mana yang akan menjadi tanggung­an pemerintah kabupaten dan provinsi,” ujar Fakhruddin.

Di antara pejabat pemprov yang turun ke lokasi banjir terlihat Kepala Dinas Sosial Kalsel HB Batiar Hanafi, Ke­pala Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel lsra Ismail, pejabat Dinas PU, Dinas Pertanian, Badan Ketahanan Pangan, Kes­bangpolinmas, Dinkes.

Sebelumnya, dalam rapat dengan para pejabat di ling­kungan Pemkab Banjar yang dipimpin Wakil Bupati Banjar KH Hatim Salman, Fakhrud­din sempat melayangkan protes terkait pemberitaan yang menyebutan 32 ribu jiwa di Kabupaten Banjar terancam kelaparan. Kalau pemberitaan itu benar, ujar Fakhruddin, sudah menjadi bencana nasional.

“Kalau benar ada 32 ribu jiwa kelaparan, itu sudah menjadi bencana nasional. Karena itu, kami ke sini untuk meminta penjelasan dan me­lihat langsung fakfanya,” ujar Fakhruddin.

Namun di lapangan, fakta yang dilihat cuma satu desa, Tambak Baru. Sementara pu­luhan desa lainnya yang ter­sebar di tujuh kecamatan yang paling parah kondisinya, jus­tru luput dari kunjungan, seperti Desa Munggu Raya Astambul atau Desa Alalak Padang, Simpang Empat.

Terpisah Kadisos Banjar, Drs Rendra Fauzi menyata­kan saat ini yang paling ter­penting bukan lagi mencari siapa yang salah atau benar. Lebih utama, menyatukan persepsi dan langkah demi penanganan korban bencana.

“Bencana banjir sudah melanda lebih dari dua bu­Ian. Pemkab hanya mampu memberikan bantuan dua kilogram betas tiap KK kor­ban bencana. Padahal saat ini banjir masih berlang­sung, bahkan kemungkian sampai maret. Ini yang ha­rus dipikirkan bersama,” je­las Rendra. (Banjarmasin Post, Kamis-5/2/2009).

Tidak hanya di Banjarmasin, banjir yang melanda di tahun ini juga terjadi di beberapa kota lainnya di Indonesia. Bahkan, banjir tahun ini pun juga turut dialami negara bagian di Australia.

Sejak sepuluh tahun terakhir ini banjir seakan-akan menjadi agenda tahunan yang tidak pernah absen melanda dan menyebabkan berbagai kerusakan di daerah yang terkena banjir, mulai dari kerusakan jalan akibat terus menerus tergerus arus air, barang-barang elektronik yang tidak terselamatkan oleh terjangan banjir secara mendadak, tanaman padi yang gagal panen karena direndam air terus menerus, rumah-rumah yang hanyut terbawa derasnya arus banjir, tanah longsor, bahkan sampai menelan tidak sedikit korban jiwa.

Sementara itu, pemerintah terlihat lamban dan tidak serius dalam menanggapi permasalahan banjir ini, ini terbukti dari meluasnya area banjir dari tahun ke tahun, dan seperti fakta diatas pada saat banjir melanda pun aparat pemerintah cukup berpuas diri dengan hanya meninjau lokasi yang terkena banjir, padahal masyarakat yang menjadi korban sangat mengharapkan bantuan moril dan materiil terkait musibah yang dialami mereka.

Banjir akibat ulah tangan manusia.

Banjir memang bukan sepenuhnya datang dari manusia, sebab manusia tidak mempunyai sedikitpun daya upaya untuk bisa mendatangkan banjir. Banjir hanyalah merupakan sunnatullah (siklus alam yang telah ditetapkan Allah SWT) yang diakibatkan rusaknya keharmonisan alam, dikarenakan intervensi tangan-tangan manusia.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. ar-Ruum [30]: 41).

Lihat saja betapa banyak intervensi tidak bertanggung jawab manusia terhadap alam, seperti; penebangan pohon secara liar yang hasilnya notabene dinikmati oleh segelintir orang-hingga sebuah gunung yang dulunya belantara menjadi tanah kering tanpa ada tanda kehidupan. Lihat juga betapa banyak lahan-lahan potensial untuk pertanian dan lahan hijau berubah fungsi menjadi perumahan-perumahan, atau apartemen-apartemen. Lihat juga betapa banyak bangunan-bangunan yang dibangun secara sembarangan tanpa memperhatikan dan mengabaikan kesetimbangan alam seperti pembangunan dengan mempersempit atau bahkan menutup aliran sungai. Dan pengrusakan-pengrusakan terhadap keseimbangan alam yang lainnya.

Islam Mengatasi Banjir

Islam adalah sebuah way of life yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengatur bagaimana seorang muslim harus menyembah Tuhan yang satu Allah SWT dengan benar juga mengatur muamalah (hubungan) manusia dengan manusia yang lainnya, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan kehidupan lainnya. Karenanya Allah berfirman dalam Al Quran:

Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (TQS. an-Nahl [16]: 89).

Didalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa Al Quran diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk untuk mengatur segala aspek kehidupan di dunia ini.

Termasuk juga permasalahan banjir, Syariat Islam telah memberikan tuntunan bagaimana pengelolaan alam sehingga tidak menimbulkan gangguan pada keseimbangannya, sehingga bencana banjir dengan ijin Allah tidak terjadi, sebab sunnatullah yang menyebabkan terjadinya banjir tidak terpenuhi atau tidak dibuat oleh tangan-tangan manusia.

Dalam hal ini, Khalifah Umar bin al-Khaththab r.a. pernah mengeluarkan keputusan yang mengalihkan kepemilikan tanah-tanah (pertanian) yang dibiarkan pemiliknya hingga terlantar selama tiga tahun menjadi milik siapa saja yang sanggup menghidupkan (mengelolanya). Ini menunjukkan bahwa perhatian Daulah Islamiyah (Negara Islam) saat itu terhadap produktivitas tanah sangat besar. Tentu saja, kebijakan semacam itu sangat bermanfaat dalam memotivasi rakyat untuk bekerja produktif, mengatasi pengangguran, dan berdampak pada pemerataan harta melalui pembagian tanah-tanah terlantar (ardhu al-mawât).

Lebih dari itu, jika seseorang memiliki tanah (pertanian) berlebih, Rasulullah saw. memberinya dua pilihan: tetap mengupayakan untuk menggarapnya atau memberikannya begitu saja kepada saudaranya (sesama Muslim) yang sanggup menggarapnya dan tanah tersebut akan menjadi miliknya. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang memiliki tanah (lahan pertanian), hendaknya ia menggarapnya atau memberikannya kepada saudaranya. (HR al-Bukhari).

Apabila tanah-tanah pertanian terlantar, dataran/perbukitan gundul, dan sejenisnya diberikan secara gratis kepada masyarakat dengan syarat harus digarap; jika tidak digarap harus diambil-alih serta diserahkan kepada individu masyarakat lain yang memiliki kesanggupan dan sungguh-sungguh mau mengelola tanah tersebut, maka negeri ini bakal mampu mengurangi pengangguran dan mengoptimalkan produktivitas tanah, yang akhirnya akan berujung pada ketersediaan lapangan kerja, produktivitas pangan meningkat, dan kesetimbangan alam akan terjaga dengan ditanaminya/diolahnya tanah-tanah terlantar.

Itulah konsep dasar “land reform” yang ditawarkan oleh syariat Islam. Jadi, hukum-hukum Islam tentang tanah amat spesifik, bukan hanya ditujukan untuk mengatasi ketenagakerjaan, tetapi juga penyeimbang ekosistem. Akan tetapi, yang paling penting, pengelolaan tanah ditujukan untuk mendukung populasi manusia berupa hasil-hasil produksi-berbentuk pangan, seperti padi, gandum, sagu, jagung dan lain-lain. Itu diperoleh melalui pemberdayan tanah-tanah terlantar maupun tanah-tanah potensial untuk pertanian yang tidak digunakan untuk kawasan permukiman ataupun kawasan industri.

Masalahnya, apakah negara (terutama penguasanya) maupun sebagian besar kaum Muslim mengetahui dan menyadari hukum-hukum Islam yang menyangkut pertanahan ini, yang secara langsung berhubungan dengan dampak-dampak negatifnya seperti banjir serta tanah gundul dan kering?

Jika demikian halnya, mengapa kita masih enggan mengambil serta menerapkan sistem hukum Islam secara kaffah (menyeluruh), termasuk syariat Islam tentang pertanahan?

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:

Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan taqwa, pasti Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka dustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka oleh perbuatannya” (TQS. al-A’râf [7]: 96).

Download PDF

Proses Pendidikan dalam Pembentukan Pemahaman

j0316767

Dalam pembahasan sebelumnya (Botol Kosong vs Botol Penuh) sudah dapat kita pahami bersama bahwa suatu perbuatan baik maupun buruk dilakukan oleh seseorang terkait dengan pemahaman yang ia miliki dalam dirinya.

Seorang pencuri pasti akan mengurungkan perbuatannya jika ia memahami bahwa pencurian yang ia lakukan adalah suatu perbuatan yang diharamkan, seorang pejabat tidak akan terlibat dalam korupsi jika ia memahami setiap perbuatan salah yang ia lakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhannya Allah SWT. di hari pembalasan nanti, seorang pendidik akan terus menjalankan tugasnya mendidik secara ikhlas walaupun dengan imbalan bilangan gaji kecil yang diterimanya setiap bulan karena dia memahami profesinya sebagai pendidik kebaikan akan diganjar oleh Tuhannya Allah SWT. dengan imbalan melebihi nilai Bumi yang ia tempati selama hidup beserta segala isinya, seorang muslim akan merasa sakit dan berupaya untuk menolong ketika menyaksikan saudara-saudaranya di Palestina di bantai secara kejam oleh Israel karena ia memahami hadits Rasulullah Muhammad SAW. yang menyebutkan; :“Perumpamaan seorang mukmin (dengan mukmin lainnya) dalam hal cinta kasih dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila (ada) salah satu bagian tubuhnya menderita (sakit), maka (akan dirasakan) oleh seluruh bagian tubuh lainnya dengan panas dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim). dan seorang pemimpin tidak akan menggunakan wewenangnya secara sembarangan hingga menyengsarakan orang-orang yang dia pimpin jika ia memahami bahwa kepemimpinan yang ia jalankan adalah suatu amanah dari Tuhannya Allah SWT. yang dapat menghantarkan dia menuju kehidupan sengsara di akherat kelak karena dia memimpin tidak sesuai dengan ketentuan perintah dan larangan Tuhannya Allah SWT. sebagaimana pidato pertama yang diucapkan Khalifah Abu Bakar Siddiq; “Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari kalian. Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolonglah dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka tegurlah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam).

Kemudian pemahaman yang menentukan seseorang melakukan perbuatan baik atau buruk berasal dari pendidikan yang dia dapatkan dan dia terima serta dia adopsi untuk dirinya, selama proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pendidikan bangku sekolah-perkulihan, pendidikan dari media cetak; koran, majalah, pendidikan dari media elektronik; televisi, radio, dan internet, lingkungan pergaulan, teman sepermainan dan seprofesi, semuanya mempengaruhi pembentukan pemahaman pada diri seseorang.

Oleh karena itu, suatu proses pendidikan tidak boleh dilakukan secara asal dan sembarangan tanpa tujuan tertentu. Jika tujuan utama pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang mempunyai pemahaman ke-Islaman yang kaffah (sempurna), maka segala unsur pembentuk pemahaman yang dapat memalingkan dari tujuan utama tersebut harus dihindarkan dari anak didik/ objek pendidikan, seperti pemahaman Liberal (bebas mengeluarkan pendapat sesuai nafsu dirinya dan kepentingan tuannya), pemahaman Sekulerisme (memisahkan pengaturan kehidupan dunia dengan kehidupan agama, atau dengan kata lain aturan agama berkaitan dengan permasalahan keduniaan seperti; politik, hukum, ekonomi, ketatanegaraan, tidak boleh diaplikasikan ke ranah keduniaan), dan pemahaman-pemahaman lain; Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Materialisme, Hipokrit, serta hidup Hedonis.

Sehingga pemahaman yang terbentuk dalam diri setiap objek pendidikan bukanlah pemahaman campur aduk yang akhirnya memunculkan pemahaman kompromi dengan menerima semua pemahaman dan mengaplikasikan semua pemahaman secara pragmatis.

Selanjutnya siapakah yang bertanggung jawab menjalankan proses pendidikan ini. Paling tidak ada tiga elemen yang bertanggung jawab dalam proses pendidikan.

Pertama, Keluarga. Keluarga adalah tempat lahirnya generasi-generasi baru. Dalam lingkup kecil ini anak mulai belajar memahami objek-objek yang ada di sekitarnya. Mulai dari cara makan makanan yang benar, cara berpakaian yang benar, sampai pada pengenalan terhadap Tuhannya Allah SWT. yang dia sembah karena fitrahnya sebagai manusia untuk menyembah sesuatu, karena ke Maha-an-Nya yang tidak terbatas dan ke Esaan-Nya yang tidak bisa disamakan dengan makhluk manapun dibumi dan alam semesta ini. Oleh karena itu pendidikan yang dijalankan oleh keluarga dalam membentuk pemahaman mendasar tentang kehidupan sangatlah penting dan tidak boleh diabaiakan.

Kedua, Masyarakat. Masyarakat merupakan lingkungan interaksi yang juga berperan dalam pembentukan pemahaman seseorang, oleh karena itu pemahaman yang berkembang di masyarakat haruslah sesuai dengan tujuan utama pendidikan diatas.

Ketiga, adalah negara. Negara berperan dalam menyediakan akses-akses pendidikan yang dapat diraih oleh semua lapisan masyarakat, seperti tempat untuk bersekolah-berkuliah, perpustakaan, laboratorium, dan lainnya, serta penyediaan para pendidik yang berkualitas. Disamping itu juga negara juga sangat berperan dalam mengontrol pemahaman-pemahaman yang beredar dan berkembang di masyarakat, pemahaman-pemahaman yang beredar melalui media cetak koran, majalah, dan tabloid, pemahaman-pemahaman yang berkembang dari media elektronik televisi, internet, dan radio, sehingga bisa mencegah masuk dan berkembangnya pemahaman-pemahaman yang dapat memalingkan dari tujuan utama pendidikan tadi.

Jadi dengan berpadunya ketiga elemen ini dalam proses pendidikan guna pembentukan suatu pemahaman ke-Islaman yang kaffah dalam diri seseorang, dengan izin Allah akan mudah terbentuk. Dan pemahaman tersebut akan mengakar kuat dalam setiap diri peserta didik.

Download PDF