PIDANAKAN PERZINAAN, BUKAN NIKAH YANG SAH

Munculnya RUU Hukum Materiil Peradilan Agama (HMPA) Bidang Perkawinan, menuai Pro dan Kontra dimana-mana, sebab didalamnya terdapat poin pemidanaan bagi pelaku nikah siri, poligami, dan nikah kontrak; dimana pelakunya dapat diancam hukuman penjara maksimal 3 bulan dan denda 5 juta rupiah.
Jika dipandang secara hukum Islam, nikah kontrak memang sangat tepat untuk dipidanakan, sebab nikah kontrak jelas keharamannya sebagaimana kesepakatan jumhur ulama. Namun pemidanaan terhadap pelaku nikah siri jelas bermasalah, begitu juga dengan poligami.

Nikah siri yang dikenal ditengah masyarakat adalah proses pernikahan yang sah secara agama karena telah memenuhi syarat dan rukun nikah secara syariah, hanya saja pernikahan tersebut tidak dicatatkan pada KUA. Oleh karena itu pemidanaan terhadap pelaku nikah siri yang sah secara syariah, jelas tidak bisa dibenarkan dan tidak ada dasarnya sama sekali dalam agama Islam, jika hal ini sampai terjadi sama saja dengan mengharamkan suatu aturan yang telah dihalalkan oleh Allah Swt., dan ini adalah sebuah dosa besar!

Padahal yang pantas untuk dipidanakan adalah para pelaku zina yang selama ini melakukan praktiknya secara terang-terangan maupun diam-diam (zina siri), karena praktik inilah yang menimbulkan dampak negatif yang sangat besar, mulai dari penyakit menular seksual seperti AIDS, aborsi, rusaknya tatanan keluarga, meluasnya seks bebas, dan berbagai permasalahan lainnya.

Berdasarkan hasil survey BKKBN tahun 2008 dengan mengambil sampel di 33 provinsi di Indonesia, didapatkan 63% remaja usia SMP dan SMU pernah melakukan hubungan seks, dan 21% diantaranya melakukan aborsi. Angka ini baru yang terungkap. Dan jelas akan semakin meningkat dan meluas jika tidak ada upaya pencegahan yang dilakukan secara signifikan baik itu melalui pendidikan dan juga jalur hukum yaitu dengan membuat pasal pemidanaan di dalam KUHP terhadap para pelaku perzinaan (hubungan seks suka sama suka).

Oleh karena itu menjadi hal yang sangat penting dan mendesak bagi para wakil rakyat di negeri ini untuk segera membuat hukum pemidanaan yang jelas dan tegas terhadap pelaku perzinaan, agar penyakit masyarakat akibat perzinaan ini tidak meluas/meningkat, dan agar dapat menyelamatkan moral generasi muda, sebab mereka adalah aset bangsa yang meneruskan pembangunan.

Wow, Ada Kondom Baru Untuk Anak Remaja

Liputan6.com, Jenewa: Produsen kondom terkemuka di Swiss mulai memproduksi dan mengedarkan kondom berukuran kecil khusus untuk anak laki-laki berusia 12-14 tahun. Kondom yang diberi nama Hotshot ini diproduksi karena berdasarkan survei, anak-anak seusia itu tak pernah memakai kondom saat berhubungan seks, dan ini berakibat tingginya angka kehamilan di bawah umur. Demikian tulis Telegraph, Rabu (3/3).

Studi yang dilakukan atas nama Komisi Federal untuk Anak-anak dan Pemuda, mewawancarai 1.480 anak berusia 10-20 tahun. Hasil survei juga menunjukkan bahwa anak-anak usia 12-14 tahun umumnya telah berhubungan seks, dan jumlahnya terus meningkat dibandingkan tahun 1990-an.

Kondom mini Hotshot ini berdiameter 4,5cm (kondom standar berdiameter 5.2cm), namun keduanya memiliki panjang yang sama 19cm.

Zonapikir; Bukannya menyelamatkan generasi muda dari kehancuran akibat perilaku seks bebas, ini malah memfasilitasi.

Telah banyak penelitian yang menyatakan bahwa pori-pori kondom lebih besar ukurannya dibanding virus HIV AIDS, artinya dengan mengkampanyekan seks aman dengan kondom adalah sebuah omong kosong besar!!! AIDS jelas terus meningkat.

Oleh karena itu siapapun Anda yang membaca artikel ini, jangan mau tertipu dengan kampanye “Seks aman dengan menggunakan kondom” karena ini adalah sebuah kampanye penyesatan, mereka tidak bertanggung jawab jika korban kampanye ini mengalami kesengsaraan hidup dihinggapi berbagai penyakit akibat seks bebas.

Maka, satu-satunya cara aman melakukan hubungan seks adalah dengan pasangan yang sah diikat dalam tali pernikahan. Diluar tali pernikahan hanya akan menuai bencana hidup dunia wal Akhirat.