Majapahit adalah Kerajaan Islam

Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasi si pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.

Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.

‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakt-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.

Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara. Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah yang berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat di masa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:

1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.

2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.

3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.

4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran suf, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari Timur Tengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan ‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranakpinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.

Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarah itu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan. Wallahu A’lam Bishshawab.

sumber: syariahpublications.com

Akibat Pendidikan Sekuler, Separuh Gadis Jabodetabek Tidak Perawan

Separuh remaja perempuan lajang di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi disebut tidak perawan karena melakukan hubungan seks pranikah. Tidak sedikit yang hamil di luar nikah.

“Dari data yang kami himpun, dari 100 remaja, 51 remaja perempuannya sudah tidak lagi perawan,” ungkap Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief kepada sejumlah media dalam Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Minggu (28/11/2010).

Selain di Jabodetabek, ujar Sugiri, data yang sama juga diperoleh di wilayah lain di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa di Surabaya, remaja perempuan lajang yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen. Menurutnya, data ini dikumpulkan BKKBN selama kurun waktu 2010 saja.

Ia menyampaikan, perilaku seks bebas merupakan salah satu pemicu meluasnya kasus HIV/AIDS. Mengutip data dari Kemenkes pada pertengahan 2010, kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun (48,1 persen) dan usia 30-39 tahun (30,9 persen). Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak ada di kalangan heteroseksual (49,3 persen) dan IDU atau jarum suntik (40,4 persen).

Mengutip catatan Kementerian Kesehatan pula, jumlah pengguna narkoba di Indonesia saat ini mencapai 3,2 juta jiwa. Sebanyak 75 persen di antaranya atau 2,5 juta jiwa adalah remaja. (ISU)

sumber: kompas.com

Zonapikir: Survei-survei seperti ini hendaknya tidak dibiarkan berlalu begitu saja, semestinya harus ditindaklanjuti dan dicari akar permasalahan mengapa banyak remaja dengan mudah melakukan hubungan seksual secara bebas dan sudah tidak perawan lagi sebelum pernikahan. Kemudian setelah akar permasalahannya teridentifikasi, maka akan mudah untuk mencari dan menjalankan langkah-langkah penyelesaiannya. Sebab para remaja adalah aset bangsa ini khususnya umat Islam, untuk melanjutkan kehidupan umat.

Penyebab mendasar adalah penerapan sekulerisme (pemisahan kehidupan dengan agama) di negara ini, termasuk dalam dunia pendidikan kita. Anak didik dijejali dengan berbagai macam disiplin ilmu; mulai dari matematika, PKn, IPA , IPS, Bahasa, dan lain-lain namun lepas dari nilai-nilai aqidah Islam. Setiap materi pembelajaran sangat jarang bahkan hampir tidak ada dikaitkan dengan nilai-nilai aqidah,   Sehingga para remaja pun menjadi latah mengikuti budaya-budaya  jahiliyah barat yang jauh dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.  Dengan pendidikan semacam ini para remaja tidak mempunyai benteng aqidah yang kuat dalam menyikapi berbagai godaan yang ada disekitar mereka.

Sungguh menyedihkan bagi saya ketika mendengar seorang remaja SMP di salah satu kota di Indonesia divonis mengidap penyakit sipilis, setelah diselidiki mengapa ia sampai terkena penyakit tersebut, ternyata dia telah biasa melakukan hubungan seksual dengan bergonta ganti pasangan.

Cerita ini dan juga survei diatas menunjukkan betapa lemahnya benteng aqidah yang dimiliki oleh para remaja negeri ini. Sebagai akibat dari pendidikan sekuler yang kering dari nilai-nilai aqidah. Belum lagi godaan-godaan disekitar kita seperti tayangan televisi, majalah, VCD, DVD, dan media elektronik maupun cetak yang sangat banyak menjurus kepada hal yang mendorong naiknya libido seksual.

Oleh karena itu sudah saatnya negeri ini menerapkan pendidikan berbasis aqidah, pendidikan yang materinya disusun bukan hanya menjadikan generasi penerus yang ahli di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki aqidah yang kuat sebagai benteng untuk menolak budaya-budaya jahiliyah barat yang merusak.

Metode Penentuan Hari Raya Idul Adha

Tahun ini hari raya Idul Adha kembali berbeda-beda, karena pemerintah RI menetapkan pelaksanaan Idul Adha pada hari yang berbeda dengan Makkah, padahal pada tahun sebelumnya RI maupun Makkah melaksanakan Idul Adha pada hari yang sama. Mengapa tahun ini bisa berbeda? Apakah pemerintah RI enggan mengganti tanggal merah dalam kalender sehingga memaksakan Idul Adha jatuh pada hari rabu 17 Nopember 2010.

Tentu hal ini menjadi pembicaraan hangat di kalangan kaum muslimin yang pro dengan keputusan pemerintah RI maupun kontra dengan keputusan tersebut.Dengan berbagai macam dalil yang dipegang masing-masing.

Dibawah ini saya tampilkan bahasan dengan dalil paling kuat dalam penentuan Hari Raya Idul Adha:

Penentuan Idul Adha (10 Dzulhijjah) bergantung pada penentuan awal bulan Dzulhijjah. Dalam hal ini para fuqaha sepakat, bahwa penentuan awal bulan Dzulhijjah hanya didasarkan pada rukyatul hilal saja, bukan dengan hisab.

Ini ditegaskan oleh Syaikh Abdul Majid al-Yahya dalam kitabnya Atsar Al-Qamarain fi Al-Ahkam Al-Syar’iyah,”Tak ada khilafiyah di antara fuqaha, bahwa rukyatul hilal adalah standar/patokan dalam penentuan masuknya bulan Dzulhijjah….” (Abdul Majid al-Yahya, Atsar Al-Qamarain fi Al-Ahkam Al-Syar’iyah, hal. 198).

Dalilnya adalah dalil-dalil umum bahwa metode standar untuk menentukan awal bulan-bulan Qamariyah adalah rukyatul hilal saja. Misalkan hadits Nabi SAW,”Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal.” (HR Bukhari no 1776; Muslim no 1809; At-Tirmidzi no 624; An-Nasa`i no 2087). (Lihat Abdul Majid al-Yahya, ibid., hal. 199; Ahmad Muhammad Syakir, Awa`il al-Syuhur Al-Arabiyah, hal.4; Fahad Al-Hasun, Dukhul al-Syahr al-Qamari, hal. 14).

Berdasarkan hadits-hadits seperti itu, lahirlah ijma’ ulama bahwa hisab astronomis (al-hisab al-falaki) tidak boleh dijadikan sandaran untuk menentukan masuknya awal bulan Qamariyah. Ijma’ ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Taimiyah, Abul Walid al-Baji, Ibnu Rusyd, Al-Qurthubi, Ibnu Hajar, Al-‘Aini, Ibnu Abidin, dan Syaukani. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 25/132; Fathul Bari, 4/158; Tafsir al-Qurthubi, 2/293; Hasyiyah Ibnu Abidin, 3/408; Bidayatul Mujtahid, 2/557).

Namun khusus untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah yang terkait dengan Idul Adha, rukyatul hilal yang menjadi patokan utama adalah rukyatul hilal penguasa Makkah, bukan dari negeri-negeri Islam yang lain. Kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil merukyat hilal, barulah rukyat dari negeri yang lain dapat dijadikan patokan.

Dalilnya adalah hadits dari Husain bin Al-Harits Al-Jadali RA, dia berkata,“Amir (penguasa) Makkah berkhutbah kemudian dia berkata,”Rasulullah telah berpesan kepada kita agar kita menjalankan manasik haji berdasarkan rukyat. Lalu jika kita tidak melihat hilal, dan ada dua orang saksi yang adil yang menyaksikannya, maka kita akan menjalankan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR Abu Dawud, hadits no 2339. Imam Daruquthni berkata,”Hadits ini isnadnya muttashil dan shahih.” Lihat Sunan Ad-Daruquthni, 2/267. Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata,”Hadits ini shahih.” Lihat Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Abu Dawud, 2/54).

Hadits ini menunjukkan bahwa yang mempunyai otoritas menetapkan hari-hari manasik haji, seperti hari Arafah, Idul Adha, dan hari-hari tasyriq, adalah Amir Makkah (penguasa Makkah), bukan yang lain. Pada saat tiadanya pemerintahan Islam (Khilafah) seperti sekarang, kewenangan itu tetap dimiliki penguasa Makkah sekarang (Saudi Arabia), meski sistem pemerintahannya berbentuk kerajaan, bukan Khilafah.

Kesimpulannya, penentuan Idul Adha ditetapkan berdasarkan rukyatul hilal, bukan hisab. Hanya saja, rukyat yang diutamakan adalah rukyat penguasa Makkah. Kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil merukyat, barulah diamalkan rukyat dari negeri-negeri yang lain. Wallahu a’lam.

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Sebagaimana telah diberitakan,  Pemerintah RI melalui Departemen Agama telah menetapkan bahwa Idul Adha 1431 H tahun ini jatuh pada hari Rabu, 17 November 2010. Bila Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah, maka 9 Dzulhijjah-nya atau Hari Arafah, hari dimana jamaah haji wukuf di Arafah, mestinya jatuh sehari sebelumnya, yakni 16 November 2010.

Sementara Mahkamah Agung Kerajaan Arab Saudi berdasarkan hasil ru’yah telah mengumumkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh bertepatan dengan tanggal 7 November 2010, maka Wukuf atau Hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada 15 November 2010.

Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Selasa, 16 November 2010, bukan hari Rabu, 17 November 2010 seperti ketetapan Pemerintah RI.

Andai saja umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di Tanah Suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi

saw.:

«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»

Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah.(HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Hadits ini sahih, sekalipun beliau berdua [Bukhari-Muslim] tidak mengeluarkannya.”).

Juga sabda beliau:

«فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ»

Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah.(HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).

Maka mestinya, umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji menjadikan penentuan hari Arafah di tanah suci sebagai pedoman. Bukan berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Apalagi Nabi Muhammad juga telah menegaskan hal itu. Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa Amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:

«عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ e أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا»

Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka.(HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).

Hadits ini menjelaskan:

Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan.

Kedua, pesan Nabi kepada Amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan ibadah haji  dilaksanakan, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada Amir Makkah. Berdasarkan ketentuan ru’yat global, yang dengan kemajuan teknologi informasi dewasa ini tidak sulit dilakukan, maka Amir Makkah berdasar informasi dari berbagai wilayah Islam dapat menentukan awal Dzulhijjah, Hari Arafah dan Idul Adha setiap tahunnya dengan akurat. Dengan cara seperti itu, kesatuan umat Islam, khususnya dalam ibadah haji dapat diwujudkan, dan kenyataan yang memalukan seperti sekarang ini dapat dihindari.

Saat ini, tiap negara berbeda-beda dalam menentukan kapan Idul Adha, bahkan di satu negara seperti Indonesia bisa terjadi perbedaan.Demikianlah keadaan umat bila tidak bersatu. Umat akan terus berpecah belah dalam berbagai hal, termasuk dalam perkara ibadah.

Bila keadaan ini terus berlangsung, bagaimana mungkin umat Islam akan mampu mewujudkan kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah? Karena itu, perpecahan ini harus dihentikan. Caranya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, dengan segala daya dan upaya masing-masing, untuk berjuang bagi tegaknya kembali Khilafah Islam. Karena hanya khalifah saja yang bisa menyatukan umat. Untuk perjuangan ini, kita dituntut untuk rela berkorban, sebagaimana pelajaran dari peristiwa besar yang selalu diingatkan kepada kita, yaitu kesediaan Nabi Ibrahim as.memenuhi perintah Allah mengorbankan putranya, Ismail as. Keduanya, dengan penuh tawakal menunaikan perintah Allah SWT itu, meski untuk itu mereka harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai.

Allah berfirman:

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ[

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian demi sesuatu yang dapat memberikan kehidupan kepada kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).

KESIMPULAN

Oleh karena itu, kepada seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia agar kembali kepada ketentuan syariah, baik dalam melakukan puasa Arafah maupun Idul Adha 1431 H, dengan merujuk pada ketentuan ru’yat untuk wuquf di Arafah, sebagaimana ketentuan syariat. Sudah seharusnya kaum Muslimin di negeri ini kembali kepada syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya, termasuk dalam menentukan hari raya Idul Adha 1431 H.

Sangat jelas bahwa ru’yah telah dilakukan dan menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah jatuh (bertepatan dengan) pada tanggal 7 November 2010. Maka dengan demikian, wukuf akan jatuh pada hari Senin, 15 November 2010, dan Idul Adha akan jatuh pada hari Selasa, 16 November 2010

Wallahu’alam bis showab!

sumber: media-islam-online

Ditulis dalam Zonapikir. Tag: . Leave a Comment »

Uang Nganggur Rp 200 trilyun, Bisa Bangun MRT-Monorel Sekaligus

Ekonom Cyrillus Harinowo mengungkapkan pemerintah Indonesia sesungguhnya mampu membangun sejumlah proyek infrastruktur besar untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi.

Menurut Harinowo, pemerintah Indonesia memiliki duit tunai dalam jumlah besar yang bisa digunakan untuk membangun proyek-proyek besar tersebut. Duit berlimpah ini sangat jelas terlihat dan bisa dilihat oleh siapapun karena tertuang dalam statistik ekonomi moneter Bank Indonesia yang diperbarui setiap bulan.

Bayangkan, kata dia, duit tunai pemerintah di rekening Bank Indonesia saja berjumlah Rp 180 triliun hingga September 2010. Sedangkan, di bank-bank umum berjumlah Rp 60 triliun. Uang itu adalah hasil penerimaan negara dan akumulasi dari surplus anggaran setiap tahunnya.

“Itu uang nganggur. Itu benar-benar uang riil milik pemerintah, bahkan jumlahnya akan terus bertambah,” ujar mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini kepada di Jakarta, Rabu (3/11).

Cyrillus juga memperkirakan, pada akhir Desember 2010 jumlah duit pemerintah atas nama bendaharawan negara di BI saja akan mencapai Rp200 triliun.

Saat meninggalkan posisi Menkeu pada Mei lalu, Sri Mulyani menyerahkan uang cash tersebut kepada Menkeu baru Agus Martowardjojo sebanyak Rp 160 triliun. Dengan demikian, hingga September 2010, uang tersebut telah bertambah sebanyak Rp 20 triliun.

Jadi, kata Harinowo, dengan dana nganggur yang begitu besar, pemerintah Indonesia sebenarnya bisa membangun proyek mass rapid transit (MRT), monorel, kereta jabotabek, jalan tol, perluasan bandara, dan proyek infrastruktur lainnya. “Bahkan, jika mau proyek MRT dan monorel bisa dibangun sekaligus, kendati proses pembangunan dilakukan secara bertahap.”

Menurut Harinowo, pemerintah RI sesungguhnya tidak perlu mencari pinjaman ke Jepang untuk mendanai proyek MRT yang membutuhkan dana sekitar Rp16 triliun. Bahkan, kalau mau membangun jembatan Selat Sunda yang membutuhkan dana Rp 100 triliun juga bisa dilakukan. Tentunya dibangun bertahap selama 10 tahun sehingga anggarannya dicicil Rp 10 triliun per tahun.

Komisaris BCA ini pun bingung dengan pemerintah, kenapa dana begitu besar tidak dimanfaatkan.

Padahal, dua pekan lalu saat bertemu dengan Menkeu Agus Martowardjojo, menurut dia, sang Menkeu juga sadar ada uang nganggur tetapi tidak dimanfaatkan.

Harinowo menekankan pemerintah tidak perlu khawatir jika uang besar itu digunakan untuk membiayai pembangunan kemudian berdampak pada inflasi. “Kalau soal inflasi, itu tugas Bank Indonesia untuk mengelolanya,” kata dia.

Sumber: harian.global

Zonapikir: Apa sebenarnya yang diinginkan oleh pemerintah Indonesia ini? Uang sebesar Rp 200 trilyun dibiarkan menganggur di bank-bank, yang kemudian mengharuskan dibayarkannya bunga terhadap dana tersebut. Padahal dengan penggunaan uang sebanyak itu banyak hal yang bisa dilakukan, diantara menambah subsidi BBM, menggratiskan biaya kesehatan dan pendidikan, menambah dan memperbaiki insfrastruktur seperti jalan, jembatan, atau lainnya. Atau membangun pembangkit listrik tenaga gas, sehingga operasional PLN lebih efisien.

Pokoknya dengan itikad baik uang sebanyak itu bisa digunakan untuk memakmurkan rakyat di negeri ini yang sedang berduka akibat bencana banjir, tsunami, dan gunung meletus.

Namun jika dana tersebut tidak digunakan untuk kemakmuran rakyat, maka sudah sangat jelas bahwa penguasa negeri ini cuma pintar mengumpulkan uang dari pajak dan atau penjualan SBI, tetapi tidak pintar mengurusi kepentingan rakyatnya. Rakyat hanya menjadi sapi perahan, setelah uang rakyat didapatkan ternyata dijadikan menganggur di Bank-bank.

Sadarlah setiap pemimpin bertanggung jawab atas siapa dan apa yang dia pimpin.