Menagih Kejujuran dalam Kebijakan Kenaikan Harga BBM

Ditengah masih tingginya angka kemiskinan rakyat Indonesia-mencapai 30,02  juta orang per Maret 2011 (BPS dengan pendapatan perbulan Rp 233.740 per kepala keluarga). Ternyata pemerintah kembali mengambil kebijakan menaikkan harga BBM yang rencananya mulai diberlakukan pada awal April 2012 mendatang.

Berbagai aksi demo pun mewarnai negeri ini untuk menolak kebijakan tersebut. Sebab jika harga BBM naik maka harga kebutuhan pokok ikut naik, transportasi naik, harga barang produksi yang dibuat di pabrik naik karena mesin-mesin menggunakan BBM, rakyat ekonomi menengah ke bawah semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya karena gajinya tidak naik, kriminalitas akan meningkat, menimbulkan penambahan penganggurankarena PHK.

Berbagai alasan dikeluarkan untuk mendukung rencana kenaikan harga BBM diantaranya; untuk menyelamatkan APBN 2012 karena membesarnya alokasi subsidi BBM akibat meroketnya harga minyak dunia dapat mengakibatkan APBN jebol, dan subsidi salah sasaran-hanya dinikmati oleh orang kaya saja, serta berbagai macam alasan lainnya.

Intinya semua alasan adalah untuk kesejahteraan rakyat, sehingga menurut pemerintah tidak ada langkah lain kecuali subsidi BBM harus dikurangi dengan cara menaikkan harga BBM.  Apakah memang benar tidak ada langkah lain?

Dua hal yang mesti kita pahami bersama, Pertama; BBM adalah produk penggerak kehidupan ekonomi rakyat. Hampir semua aktifitas kehidupan tidak pernah lepas dari mengkonsumsi BBM secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga jika terjadi perubahan harga maka dampaknya akan sangat besar.

Kedua; BBM jenis premium tidak bisa disamakan dengan BBM jenis Pertamax atau jenis Pertamax Plus, sebab masing-masingnya berbeda jenis. Premium beroktan 80 sementara Pertamax beroktan 90 dan Pertamax Plus beroktan 96, jadi wajar saja harganya berbeda. Analoginya harga secangkir air teh tidak sama dengan harga secangkir softdrink.

Pengurangan Subsidi untuk Menyelamatkan APBN?

Pemerintah beralasan harga bensin premium Rp. 4.500 per liter sekarang ini ekuivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 69,50 per barrel (1 barrel = 158.9873 liter). Jika harga naik menjadi US$ 105 per barrel. Maka dikatakan bahwa pemerintah merugi US$ 35,50 per barrel. Dirupiahkan kerugian sebesar US$ 35,50 x Rp. 9.000 = Rp. 319.500 per barrel. Ini sama dengan Rp. 2009,43 per liter (Rp. 319.500 : 159). Karena konsumsi BBM Indonesia sebanyak 63 milyar liter per tahun, dikatakan kerugiannya 63 milyar x Rp. 2009,43 = Rp. 126,59 trilyun per tahun. Maka kalau harga premium dipertahankan sebesar Rp. 4.500 per liter, pemerintah merugi atau memberi subsidi sebesar Rp. 126,59 trilyun, uang ini tidak dimiliki, sehingga dapat mengakibatkan APBN jebol.

Sepintas, alasan ini bias diterima. Namun, jika diteliti lebih mendalam ada hal yang ditutupi yaitu berapa keuntungan yang diterima dari melonjaknya harga minyak dunia, sebab Indonesia bukanlah negara net importer minyak, tetapi juga pengekspor minyak. Logikanya jika harga minyak dunia naik maka Indonesia pun mendapatkan keuntungan lebih besar dari penjualan minyak yang ada diperut bumi Indonesia ini.

Dalam APBN 2012 tercantum pendapatan minyak bumi Rp 113,68 triliun, gas alam Rp 45,79 triliun, minyak mentah Rp 10,72 triliun dan PPh migas sebesar Rp 60,9 triliun. Totalnya Rp 231,09 triliun. Jika harga minyak naik, maka pemasukan itu mencapai Rp 270 triliun.

Sehingga menjadi pertanyaan besar mengapa yang selalu di opinikan pemerintah adalah kerugian yang harus ditomboki akibat kenaikan harga minyak dunia, sementara keuntungan yang didapat dari penjualan minyak jarang sekali disuarakan? Pertanyaan kedua dimana logikanya APBN akan jebol? Sebab kenaikan harga impor minyak bersamaan dengan kenaikan harga ekspor minyak. Ketiga kemana uang hasil keuntungan penjualan minyak—yang sekarang ini mengalami kenaikan—kalau bukan masuk ke APBN?

Dan keempat mengapa harga minyak dunia yang menjadi standar penjualan BBM ke rakyat?, bukan berdasar pada pengeluaran uang tunai untuk pemompaan minyak sampai ke atas muka bumi (lifting) ditambah dengan pengilangan sampai menjadi BBM (refining) ditambah dengan pengangkutan sampai ke pompa-pompa bensin (transporting), yang menurut Kwik Kian Gie (mantan Menko EKUIN) harga seluruhnya sebesar USD 10 per barrel, ekuivalen dengan Rp 566 per liter.

Disisi lain beban APBN 2012 untuk subsidi BBM ternyata lebih rendah dibanding dengan beban APBN 2012 terhadap pembayaran utang luar negeri maupun utang dalam negeri. Di tahun ini saja pembayaran utang mencapai Rp 170 trilyun (bunga 123 trilyun dan cicilan pokok ULN Rp 43 trilyun). Dan ironisnya, pemerintah terus menambah utang dengan menerbitkan Surat Utang Negara Rp 134 trilyun dan Utang Luar Negeri sebesar Rp 54 trilyun.

Bandingkan semua itu dengan jumlah subsidi BBM yang hanya berjumlah Rp 124 trilyun untuk Tahun 2012 ini. Padahal subsidi BBM dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, sementara bunga utang hanya dinikmati oleh para kapitalis luar negeri maupun dalam negeri yang jumlahnya segelintir orang.

Subsidi salah sasaran?

Pemerintah mengatakan subsidi salah sasaran karena hanya dinikmati oleh orang kaya saja. Padahal fakta sebenarnya tidaklah demikian. Data Hasil Sensus Ekonomi Nasional (SUSENAS 2010) menunjukkan bahwa pengguna BBM 65% adalah rakyat kelas bawah dan miskin, 27% menengah, 6% menengah ke atas, dan hanya 2% orang kaya. Dan dari total jumlah kendaraan di Indonesia yang mencapai 53,4 juta (2010), sebanyak 82% diantaranya merupakan kendaraan roda dua yang mayoritas dimiliki oleh kelas menengah bawah. Disini terbukti subsidi BBM dinikmati oleh mayoritas kelas menengah kebawah.

Dengan ketidakjujuran seperti ini wajar saja 86% persen rakyat Indonesia menolak kenaikan BBM (LSI, 11/3/2012).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: