Penerapan Syariah Kunci Taqarrub Ilallah

Tak sedikit yang salah paham tentang pengertian taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Taqarrub ilallah hanya dianggap sebatas ibadah ritual, seperti shalat, puasa, haji, dzikir, dan sebagainya. Sedang pelaksanaan ajaran Islam dalam interaksi antar manusia seperti perjuangan menegakkan syariah dan menjalankan roda pemerintahan Islam, dianggap bukan taqarrub ilallah. Padahal sebenarnya tidak demikian.

Reduksi pengertian taqarrub ilallah ini dapat terjadi setidaknya karena dua faktor. Pertama, dominasi paham sekularisme yang membatasi otoritas agama hanya pada hubungan privat antara manusia dan Tuhan. Kedua, adanya kesalahpahaman mengenai konsep taqarrub ilallah itu sendiri.

Pengertian dan Ruang Lingkup Taqarrub Ilallah

Istilah taqarrub ilallah berasal dari nash-nash syara’ yang membicarakan upaya pendekatan diri kepada Allah SAW. Antara lain hadis qudsi dari Nabi SAW bahwa Allah berfirman,”Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidaklah hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan nafilah-nafilah (nawafil) hingga aku mencintainya.” (HR Bukhari & Muslim, Fathul Bari, 18/342; Syarah Muslim, 9/35). Baca entri selengkapnya »

Kenapa kamu pukul kucing yang lemah itu?

Telah datang seorang bijak kehadapan rumah seorang lelaki. Orang bijak itu terkejut tatkala mendapati lelaki itu sedang memukul seekor kucing. Orang bijak itu bertanya kepada lelaki tersebut “kenapa kamu pukul kucing yang lemah itu ?” jawab lelaki tersebut : aku telah menjumpainya disebuah jalan ketika dia dalam keadaaan yang tersangat lemah dan kedinginan. Kemudian aku mengambilnya dan memberinya makan, minum, membersihkannya dan memberikannya tempat berteduh.
Aku pelihara kucing ini sehingga ia benar-benar sehat. Setapi sesudah kucing ini sehat, ia membuang najis/kotoran pada semua tempat dirumahku.

Kemudian berkatalah si orang bijak ini : ini sebenarnya bisa kita jadikan pelajaran bagi kita manusia. Lihat saja, bagaimana Allah Swt. Memelihara kita sejak kecil hingga sekarang. Kita begitu lemah dan dhoif, lalu Allah Swt memberi kita makan, pakaian dan segalanya yg kita butuhkan. Hanya saja sayang, setelah begitu banyak kebaikan dan kenikmatan yang Allah Swt beri kepada kita, sering kali kita manusia mendurhakai Allah Swt. Sering kali kita melupakannya, sering kali pula kita meninggalkan Allah. Perintah dan larangan dari Allah Swt hanya sebatas tulisan diatas kertas saja. Rasanya tidak bergetar sedikit saja hati ini ketika ayat-ayat Allah di bacakan, bagaimanatah lgi mau diamalkan !?! Belum lagi kehidupan yang kita kerjakan sekarang teramat jauh dari teladan kita “Rasulullah Saw” bahkan kita enggan untuk mengikuti cara hidup beliau. Pembenaran demi pembenaran keluar dari bibir kita. Seolah-olah kita yang lebih paham terhadap kehidupan ini. Kita sedikit congkak, merasa bisa mengatur diri kita dengan peraturan yang kita buat sendiri. Tapi kita lupa kalau kita hanyalah manusia yang penuh dengan keterbatasan. Bahkan untuk mengendalikan pertumbuhan kuku dan rambut yg ada pada kita, kita tak sanggup. Bagaimana mau mengatur kehidupan yg kompleks seperti sekarang ini ??? apa yang akan kita sombongkan dihadapan Allah ???

Kebodohan demi kebodohan kita lakukan, kelalaian demi kelalaian kita abaikan, bahkan kesombongan terkadang menyelimuti kita…astaqfirullah. Lihatlah, begitu banyak kita mendurhakai Allah Swt. Tapi Allah membalas kita dengan sejuta rahman dan rahim-Nya. Belum juga DIA memberikan kita siksaan atau memukul kita dengan azab-Nya.
Sepenggal cerita ini mengingatkan kepada kita untuk meletakkan Allah dan Rasulnya pada cinta yang tertinggi. Seseorang yang mencintai sesuatu maka dia akan berusaha sekuat tenaganya memperoleh cinta tadi…sekeras apa usaha kita mendapatkan cinta Allah ? atau jangan – jangan kita lupa berusaha untuk “bertrima kasih” kepada Allah atas apa yang telah Allah anugrahkan kepada kita selama ini !?!?

“katakanlah, “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, dan kaum keluarga kalian, serta harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatir kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Qs. At-Taubah : 24)

“ Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah . seandainya saja orang-orang yang berbuat dzolim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu hanya kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. (niscaya mereka menyesal). (QS al-Baqarah ; 165)

Di Antara Dua Pilihan; Surga – Neraka

Jika seseorang ditanya: mau masuk surga atau neraka; mau pahala atau siksa? Tentu semuanya mau masuk surga dan meraih pahala. Mungkin hanya orang bodoh yang ingin masuk neraka dan mendapatkan siksa.

Namun, sadarkah kita, keinginan masuk surga dan meraih pahala sering hanya dusta belaka? Bukankah sering keinginan itu hanya ada di lisan kita, tidak benar-benar berasal dari lubuk hati kita dan termanifestasikan dalam amal-amal kita? Buktinya, tak sedikit orang justru melakukan amal-amal yang menjauhkan diri mereka dari kemungkinan masuk surga dan meraih pahala. Mereka malah makin mendekatkan dirinya ke neraka dan ‘memilih’ siksa. Di mulut mereka sangat ingin masuk surga dan enggan masuk neraka. Namun kenyataannya, mereka enggan menunaikan shalat, tak mau melaksanakan kewajiban menuntut ilmu, tidak berbakti kepada orang tua, malas berdakwah, cuek terhadap kemungkaran, dll. Semua itu pasti akan menjaukan diri mereka dari surga dan malah bisa menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Di lisan, mereka ingin pahala dan tak mau disiksa. Namun kenyataannya, mereka suka berbohong, berakhlak buruk, berlaku sombong dan merendahkan orang lain, memamerkan aurat, berzina, korupsi, memakan riba, mendzalimi orang lain, dll. Semua itu pasti mengundang siksa dan menjauhkan mereka dari pahala.

Maka dari itu, tentu benar sabda Baginda Nabi SAW, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra., “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para Sahabat heran, bagaimana mungkin ada orang yang enggan masuk surga? Tentu tidak masuk akal! Karena itu, mereka kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang enggan masuk surga?” Baginda menjawab, “Mereka yang menaatiku pasti bakal masuk surga. Sebaliknya, mereka yang tidak mau mengikutiku, itulah yang enggan masuk surga.” (HR Bukhari dan Ahmad).

Pertanyaannya: Lebih banyak mana, yang mengikuti Rasulullah SAW atau yang menyimpang bahkan meninggalkan jalan beliau? Tentu lebih banyak yang terakhir. Artinya, sadar atau tidak, kebanyakan manusia ternyata ‘memilih’ neraka ketimbang surga.

Memang untuk meniti jalan menuju ke surga tidaklah gampang, namun juga tidak terlalu susah. Tidak gampang karena banyaknya godaan yang kita alami dalam kehidupan sekarang, dimana manfaat yang menjadi asas atau tolak ukur dalam setiap perbuatan. Padahal seorang muslim harusnya menjadikan Halal-Haram sebagai penentu setiap perbuatan yang akan dia lakukan. Jika perbuatan itu halal maka silahkan untuk dilakukan, namun ketika haram maka dengan sekuat tenaga dan upaya untuk meninggalkan perbuatan haram tersebut.

Nah dalam hal ini kita sebagai seorang muslim harus mengetahui mana perbuatan yang halal dan mana yang haram. Bagaimana cara mengetahuinya?, tentu dengan menuntut Ilmu Islam secara benar-benar dan berkelanjutan. Bukan sekali-sekali, tetapi terus menerus kita mengkaji ilmu Islam sehingga kita semakin banyak tau mana saja perbuatan yang Halal untuk dilakukan dan mana saja perbuatan yang haram untuk dilakukan.

Tanpa aktivitas mengkaji ilmu Islam secara benar dan terus menerus, mustahil bagi seorang muslim untuk bisa tahu tentang halal-haram. Dan aktivitas mengkaji/ menuntut ilmu Islam ini adalah suatu kewajiban seperti halnya kewajiban-kewajiban yang lain seperti shalat, puasa, zakat, berhaji, jihad, dan lainnya.

Rasulullah pernah bersabda “Menuntut ilmu difardhukan untuk setiap muslim.” maknanya kita akan berdosa jika meninggalkan aktivitas menuntut ilmu Islam. Sebab hanya dengan menuntut ilmu kita bisa tahu cara menhindari dari berbuat maksiat, dan juga cara beribadah kepada Allah dengan benar.