Jika Ada Cara Untuk Menahan Diri, Mengapa Harus Marah-marah kepada Anak?

Dalam pandangan Islam, anak adalah anugerah yang diberikan Allah pada para orang tuanya. Kehadiran anak disebut sebagai berita baik (Maryam:7), hiburan karena mengenakan pandangan mata (Al-Furqan:74), dan perhiasan hidup di dunia (Al-Kahfi:46). Anak juga sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah, pelanjut, penerus dan pewaris orang tua, tetapi juga sekaligus ujian (At-Taghabun:15). Sebagai amanah, semua yang dilakukan orang tua terhadap anaknya (bagaimana merawat, membesarkan dan mendidiknya) akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Itulah menjadi penting memahami bagaimana mendidik anak, mendoakannya selalu, sekaligus senantiasa menanamkan kesabaran saat mendidik mereka.

Munculnya sikap penolakan anak balita terhadap lingkungan sosialnya adalah bagian dari proses perkembangan yang alamiah. Walau tak semua anak bersikap demikian. Gejala seperti ini biasanya dimulai saat anak berusia 2,5 tahun sampai 3 tahun. Anak-anak ini mulai tumbuh sebagai pribadi, keakuannya mulai muncul dan ia mulai ingin membedakan dirinya dengan orang lain. Pada saat itu pula, sikecil sudah mulai mencoba keinginannya sendiri. Hal itulah yang lantas dipersepsi oleh para orang tua bahwa anak  sudah mulai sulit diatur dan dianggap tidak patuh lagi. Tahapan perkembangan yang ditandai oleh ’perilaku sulit’ ini Insya Allah akan mereda pada usia 4-5  tahun, seiring dengan perkembangan kemampuan berfikirnya dan aturan-aturan yang diterapkan orang tua. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Aborsi dan Seks Bebas Bakal Jadi Masalah Kesehatan di 2011

Jakarta, Maraknya artis beradegan mesum sepanjang tahun 2010 berdampak pada tren kesehatan reproduksi. Diperkirakan seks bebas dan aborsi akan meningkat tahun depan, disusul dengan peningkatan kasus HIV/AIDS dan infeksi menular seksual lainnya.

Prediksi ini cukup beralasan, sebab di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini semua orang termasuk ‘anak baru gede’ (ABG) bisa mengakses internet dengan mudah. Tidak hanya di warung internet, kecanggihan perangkat telekomunikasi memungkinkan para ABG mengaksesnya di ponsel.

Dari situ para ABG akan mudah sekali bersinggungan dengan konten-konten berbau pornografi, termasuk video mesum para idola seperti Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari. Keterlibatan para selebritas dalam adegan-adegan tidak senonoh itu memberi kesan seolah-olah siapapun bebas untuk berekspresi. Baca entri selengkapnya »

Akibat Pendidikan Sekuler, Separuh Gadis Jabodetabek Tidak Perawan

Separuh remaja perempuan lajang di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi disebut tidak perawan karena melakukan hubungan seks pranikah. Tidak sedikit yang hamil di luar nikah.

“Dari data yang kami himpun, dari 100 remaja, 51 remaja perempuannya sudah tidak lagi perawan,” ungkap Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief kepada sejumlah media dalam Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Minggu (28/11/2010).

Selain di Jabodetabek, ujar Sugiri, data yang sama juga diperoleh di wilayah lain di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa di Surabaya, remaja perempuan lajang yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen. Menurutnya, data ini dikumpulkan BKKBN selama kurun waktu 2010 saja.

Ia menyampaikan, perilaku seks bebas merupakan salah satu pemicu meluasnya kasus HIV/AIDS. Mengutip data dari Kemenkes pada pertengahan 2010, kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun (48,1 persen) dan usia 30-39 tahun (30,9 persen). Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak ada di kalangan heteroseksual (49,3 persen) dan IDU atau jarum suntik (40,4 persen).

Mengutip catatan Kementerian Kesehatan pula, jumlah pengguna narkoba di Indonesia saat ini mencapai 3,2 juta jiwa. Sebanyak 75 persen di antaranya atau 2,5 juta jiwa adalah remaja. (ISU)

sumber: kompas.com

Zonapikir: Survei-survei seperti ini hendaknya tidak dibiarkan berlalu begitu saja, semestinya harus ditindaklanjuti dan dicari akar permasalahan mengapa banyak remaja dengan mudah melakukan hubungan seksual secara bebas dan sudah tidak perawan lagi sebelum pernikahan. Kemudian setelah akar permasalahannya teridentifikasi, maka akan mudah untuk mencari dan menjalankan langkah-langkah penyelesaiannya. Sebab para remaja adalah aset bangsa ini khususnya umat Islam, untuk melanjutkan kehidupan umat.

Penyebab mendasar adalah penerapan sekulerisme (pemisahan kehidupan dengan agama) di negara ini, termasuk dalam dunia pendidikan kita. Anak didik dijejali dengan berbagai macam disiplin ilmu; mulai dari matematika, PKn, IPA , IPS, Bahasa, dan lain-lain namun lepas dari nilai-nilai aqidah Islam. Setiap materi pembelajaran sangat jarang bahkan hampir tidak ada dikaitkan dengan nilai-nilai aqidah,   Sehingga para remaja pun menjadi latah mengikuti budaya-budaya  jahiliyah barat yang jauh dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.  Dengan pendidikan semacam ini para remaja tidak mempunyai benteng aqidah yang kuat dalam menyikapi berbagai godaan yang ada disekitar mereka.

Sungguh menyedihkan bagi saya ketika mendengar seorang remaja SMP di salah satu kota di Indonesia divonis mengidap penyakit sipilis, setelah diselidiki mengapa ia sampai terkena penyakit tersebut, ternyata dia telah biasa melakukan hubungan seksual dengan bergonta ganti pasangan.

Cerita ini dan juga survei diatas menunjukkan betapa lemahnya benteng aqidah yang dimiliki oleh para remaja negeri ini. Sebagai akibat dari pendidikan sekuler yang kering dari nilai-nilai aqidah. Belum lagi godaan-godaan disekitar kita seperti tayangan televisi, majalah, VCD, DVD, dan media elektronik maupun cetak yang sangat banyak menjurus kepada hal yang mendorong naiknya libido seksual.

Oleh karena itu sudah saatnya negeri ini menerapkan pendidikan berbasis aqidah, pendidikan yang materinya disusun bukan hanya menjadikan generasi penerus yang ahli di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki aqidah yang kuat sebagai benteng untuk menolak budaya-budaya jahiliyah barat yang merusak.

Proses Pendidikan dalam Pembentukan Pemahaman

j0316767

Dalam pembahasan sebelumnya (Botol Kosong vs Botol Penuh) sudah dapat kita pahami bersama bahwa suatu perbuatan baik maupun buruk dilakukan oleh seseorang terkait dengan pemahaman yang ia miliki dalam dirinya.

Seorang pencuri pasti akan mengurungkan perbuatannya jika ia memahami bahwa pencurian yang ia lakukan adalah suatu perbuatan yang diharamkan, seorang pejabat tidak akan terlibat dalam korupsi jika ia memahami setiap perbuatan salah yang ia lakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhannya Allah SWT. di hari pembalasan nanti, seorang pendidik akan terus menjalankan tugasnya mendidik secara ikhlas walaupun dengan imbalan bilangan gaji kecil yang diterimanya setiap bulan karena dia memahami profesinya sebagai pendidik kebaikan akan diganjar oleh Tuhannya Allah SWT. dengan imbalan melebihi nilai Bumi yang ia tempati selama hidup beserta segala isinya, seorang muslim akan merasa sakit dan berupaya untuk menolong ketika menyaksikan saudara-saudaranya di Palestina di bantai secara kejam oleh Israel karena ia memahami hadits Rasulullah Muhammad SAW. yang menyebutkan; :“Perumpamaan seorang mukmin (dengan mukmin lainnya) dalam hal cinta kasih dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila (ada) salah satu bagian tubuhnya menderita (sakit), maka (akan dirasakan) oleh seluruh bagian tubuh lainnya dengan panas dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim). dan seorang pemimpin tidak akan menggunakan wewenangnya secara sembarangan hingga menyengsarakan orang-orang yang dia pimpin jika ia memahami bahwa kepemimpinan yang ia jalankan adalah suatu amanah dari Tuhannya Allah SWT. yang dapat menghantarkan dia menuju kehidupan sengsara di akherat kelak karena dia memimpin tidak sesuai dengan ketentuan perintah dan larangan Tuhannya Allah SWT. sebagaimana pidato pertama yang diucapkan Khalifah Abu Bakar Siddiq; “Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari kalian. Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolonglah dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka tegurlah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam).

Kemudian pemahaman yang menentukan seseorang melakukan perbuatan baik atau buruk berasal dari pendidikan yang dia dapatkan dan dia terima serta dia adopsi untuk dirinya, selama proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pendidikan bangku sekolah-perkulihan, pendidikan dari media cetak; koran, majalah, pendidikan dari media elektronik; televisi, radio, dan internet, lingkungan pergaulan, teman sepermainan dan seprofesi, semuanya mempengaruhi pembentukan pemahaman pada diri seseorang.

Oleh karena itu, suatu proses pendidikan tidak boleh dilakukan secara asal dan sembarangan tanpa tujuan tertentu. Jika tujuan utama pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang mempunyai pemahaman ke-Islaman yang kaffah (sempurna), maka segala unsur pembentuk pemahaman yang dapat memalingkan dari tujuan utama tersebut harus dihindarkan dari anak didik/ objek pendidikan, seperti pemahaman Liberal (bebas mengeluarkan pendapat sesuai nafsu dirinya dan kepentingan tuannya), pemahaman Sekulerisme (memisahkan pengaturan kehidupan dunia dengan kehidupan agama, atau dengan kata lain aturan agama berkaitan dengan permasalahan keduniaan seperti; politik, hukum, ekonomi, ketatanegaraan, tidak boleh diaplikasikan ke ranah keduniaan), dan pemahaman-pemahaman lain; Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Materialisme, Hipokrit, serta hidup Hedonis.

Sehingga pemahaman yang terbentuk dalam diri setiap objek pendidikan bukanlah pemahaman campur aduk yang akhirnya memunculkan pemahaman kompromi dengan menerima semua pemahaman dan mengaplikasikan semua pemahaman secara pragmatis.

Selanjutnya siapakah yang bertanggung jawab menjalankan proses pendidikan ini. Paling tidak ada tiga elemen yang bertanggung jawab dalam proses pendidikan.

Pertama, Keluarga. Keluarga adalah tempat lahirnya generasi-generasi baru. Dalam lingkup kecil ini anak mulai belajar memahami objek-objek yang ada di sekitarnya. Mulai dari cara makan makanan yang benar, cara berpakaian yang benar, sampai pada pengenalan terhadap Tuhannya Allah SWT. yang dia sembah karena fitrahnya sebagai manusia untuk menyembah sesuatu, karena ke Maha-an-Nya yang tidak terbatas dan ke Esaan-Nya yang tidak bisa disamakan dengan makhluk manapun dibumi dan alam semesta ini. Oleh karena itu pendidikan yang dijalankan oleh keluarga dalam membentuk pemahaman mendasar tentang kehidupan sangatlah penting dan tidak boleh diabaiakan.

Kedua, Masyarakat. Masyarakat merupakan lingkungan interaksi yang juga berperan dalam pembentukan pemahaman seseorang, oleh karena itu pemahaman yang berkembang di masyarakat haruslah sesuai dengan tujuan utama pendidikan diatas.

Ketiga, adalah negara. Negara berperan dalam menyediakan akses-akses pendidikan yang dapat diraih oleh semua lapisan masyarakat, seperti tempat untuk bersekolah-berkuliah, perpustakaan, laboratorium, dan lainnya, serta penyediaan para pendidik yang berkualitas. Disamping itu juga negara juga sangat berperan dalam mengontrol pemahaman-pemahaman yang beredar dan berkembang di masyarakat, pemahaman-pemahaman yang beredar melalui media cetak koran, majalah, dan tabloid, pemahaman-pemahaman yang berkembang dari media elektronik televisi, internet, dan radio, sehingga bisa mencegah masuk dan berkembangnya pemahaman-pemahaman yang dapat memalingkan dari tujuan utama pendidikan tadi.

Jadi dengan berpadunya ketiga elemen ini dalam proses pendidikan guna pembentukan suatu pemahaman ke-Islaman yang kaffah dalam diri seseorang, dengan izin Allah akan mudah terbentuk. Dan pemahaman tersebut akan mengakar kuat dalam setiap diri peserta didik.

Download PDF

BHP Perguruan Tinggi VS Mall

Apa bedanya Perguruan Tinggi dengan Mall? Banyak!!! Diantaranya Mall adalah tempat para pedagang yang menempati kios untuk memajang produk-produk yang mereka jual, mulai dari barang murah meriah seperti accessories, sampai barang extra mahal seperti televise LCD keluaran terbaru. Sementara Perguruan Tinggi adalah tempat para dosen mengajar yang terbagi ke dalam beberapa fakultas.

Apalagi bedanya? Perguruan Tinggi dikunjungi oleh para mahasiswa yang tujuan utamanya adalah menjalani perkuliahan untuk mendapatkan pendidikan dan mendapatkan gelar, sementara Mall dikunjungi para konsumen untuk membeli sebuah atau beberapa barang, atau hanya sekedar untuk cuci mata.

Apalagi bedanya? Tentu, banyak lagi, yang jika diteruskan mungkin lebih dari 100 halaman baru selesai nulisnya.

Lalu, apa persamaan antara Perguruan Tinggi dan Mall?

Pertama; setiap Perguruan Tinggi dan Mall dalam operasional pasti menggunakan uang. Pada Perguruan Tinggi uang tersebut digunakan baik itu untuk membayar listrik, ledeng, telepon, gaji para karyawan, dan banyak lagi yang lainnya (coba Anda bayangkan sendiri), seperti itu juga pada sebuah Mall.

Kedua, semenjak disahkannya RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengaku wakil rakyat yang ada di DPR sono, maka hampir bisa dikatakan status sebuah Mall dan sebuah Perguruan Tinggi adalah sama. Mengapa? Yaa, jelas sama. Mall mendapatkan uang untuk membayar biaya operasionalnya adalah dari para konsumennya, seperti itu juga Perguruan Tinggi untuk membayar biaya operasionalnya adalah dari para konsumennya, dalam hal ini yang menjadi konsumennya adalah para mahasiswa. Artinya disini hanya mahasiswa yang mempunyai uang dengan limit yang ditentukan saja yang bisa mendapatkan kesempatan mendapatkan perkualiahan. Sebagai bahan perbandingan di tempat saya dulu kuliah mulai masuk tahun 2003 saya membayar SPP sebesar Rp 524.500,- sekarang tahun 2008 pada fakultas dan jurusan yang sama SPP menjadi satu juta rupiah.

Ketiga, seiring dengan mengglobalnya dunia, dimana Mall-Mall skala internasional mulai banyak berdiri di kota-kota besar negeri ini, begitupun juga sudah mulai banyak berdiri Perguruan tinggi tingkat internasional.

Keempat, tanggung jawab Negara (pemerintah) terhadap Mall ataupun Perguruan Tinggi sangatlah minim. Jadi jangan terkejut jika suatu hari nanti ada perguruan tinggi yang dinyatakan tutup karena pailit atau bangkrut, sebab tidak mendapatkan dana yang cukup untuk biaya operasionalnya karena kekurangan mahasiswa, atau bahkan tidak mendapatkan konsumen (mahasiswa) sama sekali.

Para pembaca yang budiman, seorang manusia atau bahkan Negara dinilai baik atau jahat, maju atau terbelakang, mulia atau hina, adalah karena tindakan yang dilakukannya, kemudian setiap tindakan yang dilakukan adalah bersumber dari sebuah pemahaman yang ada dalam jiwa seorang manusia, selanjutnya pemahaman seseorang didapatkan dari sebuah pembelajaran dan pendidikan.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan hal sangat penting bagi seorang manusia untuk dapat berkiprah dalam kehidupan dunia ini. Dan bagi sebuah Negara untuk mencapai kemajuan. Tanpa pendidikan, hanya akan menjadikan seseorang dan sebuah Negara menjadi semakin terjajah oleh yang lainnya, selalu menjadi pengikut, dan menjadi pecundang.

Karena sangat pentingnya pendidikan tersebut, maka sudah menjadi kewajiban bagi sebuah Negara untuk menyediakan akses yang mudah bagi rakyatnya untuk mendapatkan pendidikan, baik itu akses tempat, akses sarana dan prasarana, sampai pada biaya yang dikeluarkan oleh peserta didik dalam menempuh pendidikan juga harus jangan sampai mengalihkan perhatiannya dari tujuan utama mendapatkan pendidikan. Sebab bagaimana mau konsentrasi terhadap pendidikan yang ditempuh dan berhasil serta dapat mengembangkan ilmunya, jika di satu sisi harus berpikir keras untuk mencari dana agar dapat terus melanjutkan pendidikan.

Mengapa pemerintah Indonesia melepas tanggung jawabnya terhadap pendidikan melalui disahkannya UU Badan Hukum Pendidikan ini, apalagi alasannya kalau bukan menjalankan agenda Liberalisasi dan Kapitalisasi di berbagai sector termasuk pendidikan, lalu lepaslah tanggung jawab mereka terhadap pembiayaan pendidikan. Sehingga tidak memberatkan APBN, mengapa pembiayaan pendidikan memberatkan APBN, apalagi alasannya kalau bukan minimnya pemasukan pemerintah terhadap kas Negara, yang hanya bertumpu pada penerimaan pajak.

Apakah tidak mampu pemerintah Indonesia menyelenggarakan pendidikan bagi rakyatnya secara gratis?

Jangan langsung mengatakan mustahil, jika saja pemerintah mau bertindak secara berani dan mau mengambil dan mengamalkan sabda Rasulullah Muhammad SAW yang artinya:

Kaum muslimin berserikat dalam 3 hal, yaitu air, padang rumput dan api     (HR Abu Daud).

Berdasarkan hadits tersebut, maka kekayaan alam yang ada di Indonesia sudah menjadi hak bersama bagi rakyatnya, yang merupakan salah satu sumber pembiayaan terbesar yang diperoleh oleh Negara. Syariah Islam melarang negara menyerahkan pemilikan dan pengelolaan harta milik umum; air, hutan, tambang/energi kepada swasta dan asing.

Namun pada faktanya, hampir 80% tambang yang ada di Negara ini dikuasai oleh asing, dan hanya memberikan sedikit kontribusi pada Negara. Dan sayangnya sampai hari ini, selama 63 tahun merdeka, 6 kali pergantian presiden dan puluhan kali pergantian anggota DPR-MPR, pemerintah Indonesia masih tidak tergerak hatinya untuk menasionalisasi kepemilikan tambang oleh asing tersebut.

Masihkah Anda mengharapkan perubahan Indonesia menjadi sejahtera, dapat terjadi selama system Kapitalisme dan Sekulerisme masih dianut dan dibanggakan.

Sudah saatnya kita tinggalkan jauh kebelakang Sistem Kapitalisme – Sekularisme yang hanya menambah kesengsaraan dimana-mana, dan mulai beralih kepada system yang sesuai dengan fitrah manusia, sesuai dengan keadaan manusia yang tidak bisa menghitung sudah berapa banyak dia bernafas, sesuai dengan keadaan manusia yang serba terbatas. Apalagi kalau bukan Sistem dari Yang Maha Tahu Allah SWT, yaitu Syariah Islam dalam segala aspek kehidupan.

 

Download PDF

Botol Kosong VS Botol Penuh

Bisakah Anda membayangkan sebuah botol dengan bentuk yang sempurna, namun isinya kosong? Jika Anda tidak bisa membayangkannya dengan jelas, maka sekarang Anda ambil sebuah botol dan letakkan di samping artikel ini Anda baca.

Jika Anda sudah mendapatkan gambaran yang jelas sebuah botol kosong maka Anda bisa melanjutkan membaca artikel ini.

Sekarang coba Anda bayangkan sebuah botol yang juga sempurna, namun penuh berisi. Jika Anda tidak bisa mendapatkan gambaran yang jelas, saya harap Anda lakukan langkah seperti diatas dan isi sebuah botol dengan apapun sampai penuh.

Nah sekarang lihat kedua botol tersebut!

Pada awalnya disaat Anda, saya, atau siapapun didunia ini dilahirkan adalah seperti sebuah botol kosong, namun seiring dengan bertambahnya usia kita botol tersebut pun terisi. Terisi oleh apa? Terisi oleh berbagai macam pemahaman bagaimana Anda menjalani kehidupan di dunia ini; menjadi manusia religius, menjadi manusia materialisme, manusia pragmatis, atau manusia perfeksionis. Pemahaman dimana Anda memposisikan diri Anda dalam perjalanan dunia ini; seorang pejuang perubahan, seorang penghalang perubahan, seorang simpatisan perubahan, atau seorang penonton perubahan. Pemahaman menjadi ‘apa’; menjadi seorang pegawai yang selalu menurut atasan, seorang pengusaha yang selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang lebih dari apa yang telah dicapai, seorang pemimpin bijaksana yang mencintai dan dicintai yang dipimpinnya, seorang pencuri atau koruptor yang perbuatannya selalu dipergoki oleh Tuhannya, atau seorang pendidik yang memiliki tempat istemewa di hati setiap para muridnya.

Seperti halnya sebuah botol yang berisi sesuatu yang sangat berharga atau berisi sesuatu yang sangat tidak berharga, begitu juga nilai diri Anda dapat ditentukan dengan pemahaman apa yang Anda isi dan penuhi dalam pikiran dan jiwa Anda; pemahaman yang berisikan hal-hal yang baik atau pemahaman yang berisikan hal-hal yang buruk. Pemahaman menjadi seorang yang sangat berharga dalam pandangan keluarga Anda, dalam pandangan teman-teman Anda, dalam pandangan pimpinan atau bawahan Anda, dalam pandangan masyarakat disekitar Anda, dalam pandangan orang-orang yang pernah bertemu dengan Anda, dan dalam pandangan Tuhan Anda.

Begitu juga perbuatan apa? yang akan Anda pilih untuk dilakukan dan Anda tinggalkan bergantung pada pemahaman yang Anda miliki.

Sebagai contoh seorang anak kecil pasti akan menolak, jika ada seseorang memberikan uang Dollar kepadanya, sebab ia memahami uang yang bisa dibelanjakan adalah uang 5 ribu rupiah yang selalu diberikan oleh ibunya setiap hari.  Contoh lain seseorang yang suka berbuat dosa; korupsi, mencuri, merampok, nge-seks bebas diluar ikatan nikah, pemakai narkoba, serta menipu, pasti ia akan selalu melakukan pekerjaan tersebut, selama dia tidak memahami untuk apa dia diciptakan Tuhannya, dan kemana tempat kembalinya nanti setelah ia meninggal dunia (dipersilahkan memasuki Sorga J,  atau diseret ke dalam Neraka dan berada disana selama beribu-ribu tahun kemudian dipersilahkan memasuki Sorga L J,  atau diseret ke Neraka dan disana  selama-lamanya L).

Sehingga yang perlu Anda pikirkan sekarang adalah pemahaman apa yang ada dalam diri Anda? Apakah pemahaman yang Anda punya tersebut bernilai positif bagi diri Anda, keluarga Anda, masyarakat Anda, agama yang Anda anut, dan Negara Anda? Bersambung:

Download PDF