Kado Pernikahan Untuk Istriku

imgcoverphpJika ada surga di dunia, maka surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia, itu adalah rumah tangga yang penuh pertengkaran dan kecurigaan-kecurigaan yang menakutkan di antara suami dan istri.

Pernikahan memang merupakan peristiwa agung yang dialami oleh seorang muslim-maupun muslimah, dengan pernikahan sesuatu hal yang semula haram menjadi halal, dengan pernikahan jiwa yang kesepian menjadi tentram, tentu hal ini hanya bisa didapatkan melalui sebuah pernikahan yang barakah, pernikahan menuju keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah.

Namun tentu saja pernikahan menuju keluarga SakinahMawaddahWarahmah tersebut tidak akan dapat tercapai jika jalan menuju pernikahan, adalah jalan yang tidak diridhoi Allah Swt; seperti kumpul kebo, pacaran, teman tapi mesra, dan sejenisnya.

Kiranya buku karya Ust. Mohammad Fauzil Adhim, yang bisa Anda downloaad e-book nya ini dapat menuntun Anda untuk menuju gerbang pernikahan yang penuh berkah dari Allah Swt. bagi Anda yang sudah punya pasanganpun tidak salahnya membaca buku ini, sehingga Anda akan mempunyai ghirah/semangat baru lagi dalam berusaha untuk saling membahagiakan pasangan. selamat membaca!

Download e-book Lengkap

Iklan

Golput Pemenang Pemilu 2009

LP3ES: Angka Golput Tembus 30%

Jakarta – Pemungutan suara di Pemilu 2009 memang telah berjalan cukup lancar. Namun di sisi lain, angka golongan putih terus meningkat secara signifikan. LP3ES bahkan mencatat golput di Pemilu 2009 memecahkan rekor dengan jumlah menembus angka 30%.

“Iya, yang paling tinggi sejak pemilu 1999. Pemilu saat ini angka golputnya 34% dibandingkan pemilu 2004 yang lalu sekitar 26%. Sedangkan pemilu 1999 sekitar 20%,” kata Wakil Direktur LP3ES Sudar D Atmanto kepada INILAH.COM, Jakarta, Jumat (10/4).

Persentase tersebut, lanjut Sudar, tidak termasuk pemilih yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap. “Itu mereka yang terdaftar di DPT yang tidak mau datang tapi bisa lebih tinggi lagi kalau ditambah yang tidak masuk DPT. Kalau pemilu sekarang mungkin bisa lebih tinggi, bisa sampai 40%,” imbuhnya.

Ada beberapa hal, jelas Sudar, yang menjadi penyebab angka golput yang cukup tinggi. Pertama, masyarakat masih tidak mengetahui siapa calegnya. Mulai dari visi dan misinya sampai rekam jejak (track records). Ini, lanjutnya, yang dinamakan golput sadar

Selain itu, ujar Sudar, sosialisasi KPU mengenai pemilu ke masyarakat sangat minim. Jadi, hal ini menjadi tantangan bagi KPU dan pemerintah untuk memperbaiki DPT untuk Pilpres bulan Juni mendatang.

“Sekarang tidak hanya KPU. Proses pendataan bermula dari Depdagri. Harus lebih all out melakukan pendataan di pilpres,” pungkasnya.

Sumber: Inilah.com

PD Rangking Satu, Angka Golput Mencapai 28 Persen

Jakarta – Lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dalam hasil quick count sementara menyebutkan Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu. Sementara angka pemilih golput mencapai 28 persen.

“Dari 2.000 TPS di 33 provinsi yang kita pantau, data yang sudah masuk sekitar 87 persen dan data golput ada 28 persen,” kata Direktur Eksekutif LSI Denny JA dalam jumpa pers di kantornya Jl Pemuda Raya No 70, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (9/4/2009) malam.

Menurut Denny, saat ini Partai Demokrat memperoleh sekitar 20,36 persen perolehan suara. Namun Denny mengatakan, untuk peringkat dua dan tiga belum bisa ditentukan, karena Partai Golkar dan PDIP perolehan suara masih bersaing tipis, yaitu 14,77 persen dan 14,54 persen.

“Jadi rangking dua dan tiga ditempati Partai Golkar dan PDIP, kita belum bisa tentukan yang mana karena selisihnya masih di bawah margin error,” jelasnya.

Sementara, PKS menduduki peringkat keempat dengan perolehan suara sementara 7,92 persen, PAN 6,05 persen, PPP 5,4 persen, Partai Gerindra 4,19 persen, Hanura 3,55 persen dan partai lainnya ditotal 17,91 persen. “Jadi hampir semuanya ada sembilan partai lama yang masuk parliamentary threshold, kecuali Partai Hanura dan Gerindra,” ungkapnya.

Denny menambahkan, hampir semua partai lama cenderung menurun perolehan suaranya pada Pemilu 2009 kali ini, kecuali PKS dan PAN yang cenderung stabil. Sementara Partai Demokrat terus menaik termasuk partai baru seperti Gerindra dan Hanura.

“Ini berbeda dengan perolehan suara Pemilu 2004 yang dimenangkan Partai Golkar sebanyak 21,58 persen, PDIP 18,53 persen, PKB 10,57 persen dan Partai demokrat 7,45 persen,” ujarnya.

Sumber: pemilu.detiknews.com

Zonapikir: Angka Golput ini menunjukkan mayoritas rakyat sudah merasa apatis terhadap perubahan yang akan terjadi melalui sistem pemilu.

Mengapa rakyat Apatis? karena disetiap pemilu yang mengalami pergantian hanyalah sosok para wakil rakyat dan pemimpinnya saja, sementara akar permasalahan bangsa ini sehingga belum dapat menyebarkan kesejahteraan bagi rakyatnya adalah terletak dari penerapan sistem yang salah. Yaitu Sistem Kapitalisme, dimana dengan sistem ini semakin menjadikan jurang pemisah antara penduduk kaya dan penduduk miskin semakin jauh, penyebaran distribusi pendapatan yang tidak merata kepada rakyat, pengelolaan kekayaan alam yang seyoyanya diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, dijual seenaknya kepada swasta maupun asing dengan alasan demokrasi.

Oleh karena itu tidak cukup hanya dgn pergantian sosok wakil rakyat maupun pemimpin rakyat, tetapi juga perubahan sistem kehidupan dengan meninggalkan jauh-jauh sistem Kapitalisme beserta teman-temanya seperti Demokrasi, Liberalisme, Sekularisme, menuju ke satu-satunya sistem yang diridhoi oleh Allah Swt, sebagai Pencipta manusia, yaitu Sistem Islam melalui bingkai Daulah Islamiyah.

Masihkah Berharap Pada Demokrasi?

demokrasiTepatnya 9 April 2009 (besok) di Indonesia diadakan pemilu yang akan memilih para wakil rakyat yang akan duduk di kursi MPR, DPR RI pusat dan DPR tingkat daerah. Walaupun antusias masyarakat untuk ikut serta dalam pesta demokrasi di tahun ini serasa kurang dibanding periode pemilu sebelumya, namun dengan memegang predikat negara demokrasi terbesar ketiga didunia setelah Amerika Serikat dan India, Indonesia tetap melaksanakan pemilu dengan dana yang sangat besar berkisar diatas Rp 50 trilyun lebih, dan dana ini belum termasuk dana partai maupun caleg yang mereka keluarkan untuk mengkampanyekan diri agar dikenal oleh rakyatnya.

Lagi-lagi masyarakat hanya bisa menjadi penonton aksi para politikus dengan janji-janji yang dibuat manis ditelinga, tidak peduli bagaimana nanti melaksanakan janjinya-itu urusan belakangan, yang penting dapat kursi. Semua janji parta-partai maupun caleg peserta pemilu menjanjikan perubahan, perubahan agar Indonesia menjadi lebih baik dengan mengeluarkan visi-misi yang akan dilaksanakan ketika memenangkan pemilu putaran pertama ini.

Namun disini sedikit pun tidak pernah terdengar visi-misi untuk mengganti sistem demokrasi yang selama 63 tahun telah terbukti gagal menyejahterakan rakyat Indonesia. Padahal dengan tetap memakai system yang sama, mustahil Indonesia dapat sejahtera dengan kembali menguasai 83% kekayaan migas yang telah dicaplok asing melalui mekanisme demokrasi. Juga mustahil bagi Indonesia untuk terlepas dari kepentingan-kepentingan asing melalui undang-undang yang telah dibuat oleh para wakil rakyat periode sebelumnya. Tidak pernah kita dengar ada sebuah undang-undang yang terkait dengan kepentingan asing dicabut untuk kemakmuran rakyat. Yang ada hanya penurunan kebijakan harga BBM karena mengikuti harga minyak dunia yang turun akibat krisis global. Yang tentu saja sangat tidak mungkin ada kebijakan menurunkan harga BBM jika tidak terjadi anjloknya harga minyak dunia.

Meninjau Sejarah Demokrasi

Demokrasi sebenarnya lahir pada abad ke 5 SM di Yunani. Pada waktu itu dalam sejarah pemikiran politik barat di Yunani telah muncul Negara Negara kota-city state. Jumlah penduduknya menurut Herodotus dan Aristophanes, sekitar tiga puluh ribu orang. Karena itu komunikasi politik tidak terlalu sukar dilakukan dalam negara kota tersebut dan sistem Demokrasi Langsung bisa dilaksanakan secara baik di negara-negara kota itu. Orang-orang Yunani telah mengamalkan demokrasi di kota Athas dan Sparta. Keseluruhan rakyat lelaki secara langsung terlibat didalam pemerintahan, dimana mereka akan berkumpul diperhimpunan umum dan bermusyawarah didalam semua urusan pemerintahan. Mereka akan melantik seorang ketua dan akan merancang serta mensahkan undang-undang menjalankan segala perlaksanaanya dan menjatuhkan hukuman terhadap pelanggarnya. Namun demokrasi ini telah tamat bersamaan dengan tamatnya kerajaan kota Athas (Athena) dan Sparta.

Juga dengan berkembangnya zaman jelas tidak memungkinkan lagi semua pendapat dari masyarakat (misal 200 juta – 1 Milyar penduduk) dihimpun dan dibahas bersama-sama. Sehingga kemudian muncullah system perwakilan. Nah disinilah mulai timbul permasalahan, siapa sebenarnya yang diwakili; kepentingan rakyat banyak? ataukah kepentingan para pemilik modal?-sebab untuk dapat menjabat sebagai wakil rakyat harus melalui mekanisme pemilu yang tentu saja memerlukan dana tidak sedikit yang biasanya didapatkan dari koceknya para pemilik modal.

Beberapa Kritikan Terhadap Demokrasi

· Dalam bukunya Reaganism and the Death of Representative Democracy, Walter William seorang professor emeritus dari Universitas Washington, mengatakan bahwa pemerintahan Amerika semenjak zaman Reagan hingga saat ini adalah “Government of the Wealthy, for the wealthy” (pemerintahan si kaya untuk kepentingan si kaya) Perubahan nilai dalam demokrasi ini disebabkan adanya sistem lobbi yang memberi peluang bagi kapitalis-kapitalis, yang mayoritasnya Yahudi, untuk menentukan segala kebijaksanaan pemerintah.

· Kritikan lebih pedas lagi diutarakan oleh Chomsky, beliau mengatakan bahwa Amerika tidak kurang terorisnya berbanding mana-mana Negara yang diklaim sebagai teroris. Karena Amerika berambisi untuk mewujudkan empayar dunia dan semua konspirasi dilakukan untuk merealisasikan “imperial grand strategy” (strategi penjajahan yang besar). Antara konspirasi yang sudah tidak asing lagi adalah konspirasi 11 september yang menjadi alasan perang terhadap keganasan umat Islam. Demikian dijelaskan oleh Mathias Brockers, penulis Jerman yang berhasil mendedahkan konspirasi Amerika agar dunia percaya ia dilakukan oleh teroris.

· Abu A’la Al-Maududi secara tegas menolak demokrasi. Menurutnya,Islam tidak mengenal paham demokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. Demokrasi adalah buatan manusia sekaligus produk dari pertentangan Barat terhadap agama sehingga cenderung sekuler. Di dalam kitabnya ‘Nazariat Islamiah al biah’ beliau mengungkapkan “sesungguhnya kerajaan(pemerintahan) Islam bukanlah demokrasi. Demokrasi adalah ibaratdaripada manhaj pemerintahan yang kekuasaannya milik rakyat keseluruhannya. Tidak akan berubahnya undang-undang melainkan dengan pandangan orang banyak, bahkan undang-undang juga tidak akan dibuat melainkan berdasarkan pengiraan kehendak akal mereka,sehingga perlaksanaannya daripada undang-undang tersebut melainkan mengikut rekaan diri mereka. Setiap yang tidak dikehendaki oleh akal mereka akan terbina tembok penghalang dan dikeluarkan dari parlemen. Inilah yang ada pada ciri-ciri Republik: “Engkau akan melihat sesungguhnya demokrasi tidak ada sesuatupun daripada Islam. Jadi tidak betul mensandarkan ungkapan Republik atau Demokrasi kepada sistem pemerintahan Islam.

· Syekh Muhammad Qutb Didalam kitab ‘Mazahib fikriah al mu’asarah’ menyatakan dua hakikat yang tidak boleh dilupakan dalam demokrasi yaitu:

  1. Tidak sepatutnya kita sertakan sistem-sistem Islam kepada system Jahiliah. Lebih-lebih lagi kita coba untuk menyandarkan system yang ditetapkan oleh Allah kepada sistem Jahiliah atau kita menggambarkan akan pujian sistem Islam apabila wujudnya titik pertemuan dengan sistem Jahiliah. Firman Allah Ta’ala yang bermaksud: “Maka apakah kamu mencari hukum jahiliah? Sedang hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum yang diturunkan oleh Allah bagi orang-orang yang yakin“.
  2. Walaupun Islam dan demokrasi mempunyai keserupaan didalam beberapa noktah tetapi ia berbeda besar pada kaedah dasar. Islam berdiri di atas kaedah yang mempunyai perbedaan yang kukuh daripada kaedah yang didirikan oleh demokrasi. Dan Islam meletakkan pengabdiannya yang mutlak kepada Allah dan melaksanakan syariatnya sehingga terlaksana di bumi nyata sebagai alamat kepada mentauhidkan Allah, namun demokrasi ialah pengabdian selain Allah. Pemerintahan undang-undang manusia dan peneguhannya di bumi nyata sebagai tanda pengabdian selain dari Allah.

Mengapa Masih Menerapkan Demokrasi?

Jika sudah diketahui bahwa demokrasi sebenarnya hanyalah sebuah sistem yang sudah tamat sejarahnya sekitar abad ke-5 SM, tapi mengapa sampai hari ini masih saja diterapkan dengan bangga oleh bangsa ini, jawabannya adalah karena Indonesia tidak pernah mau melepaskan diri dari penjajahan yang dilakukan oleh dunia barat. Jika sebelum kemerdekaan tahun 1945 M Indonesia dijajah secara fisik, namun sekarang dijajah secara pemikiran sehingga tidak merasa terjajah padahal kekayaan alam yang ada telah banyak di kuasai asing. Bayangkan saja sejak tahun 1991 hingga tahun 2002, PT Freeport memproduksi total 6,6 juta ton tembaga, 706 ton emas, dan 1,3 juta ton perak. Penerimaan Freeport pertahun sekitar Rp 42 trilyun dan Indonesia cukup puas menerima Rp 1 trilyun pertahun. Padahal cadangan emas terukur di bumi penghasil emas terbesar didunia ini memuat sekitar 3.046 ton emas. Dan sampai hari ini Freeport masih dengan enak mengeruk kekayaan alam ini. Ini baru kekayaan alam emas di Irian Jaya, belum termasuk minyak bumi, batu bara, gas alam, hasil hutan, hasil laut dan kekayaan alam lainnya yang sebagian besar masih dikuasai dan dinikmati oleh asing.

Sistem Islam Melepaskan Indonesia dari Penjajahan

Tidak dapat dibantah lagi hanya dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruhlah yang bisa melepaskan Indonesia dari segala bentuk penjajahan dunia barat, sebab sistem Islam adalah sistem berbasis aqidah Islamiyah yang diturunkan oleh Allah Swt. pencipta manusia dan Dia mengetahui semua kelemahan-kelemahan manusia, serta sistem kehidupan apa yang cocok diterapkan dalam kehidupan manusia di dunia ini.

TQS. An Nisa: 59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Muslimah Bercadar Ditolak Naik Bis

veil
Seorang wanita Somalia berumur 41 tahun dari perumahan Vollsmose telah di usir dari sebuah bis kota karena ia menolak untuk memperlihatkan wajahnya yang tertutup Niqab kepada supir bis tersebut, menurut media Fyens Stiftstidende Denmark.

Kasus serupa juga pernah terjadi di Århus, ketika Houria Nouioua bersama suami dan tiga anaknya juga diminta turun dari bis karena niqab yang ia kenakan.

Untuk Amina Farah Sulaiman, kejadian ini merupakan yang ke empat kalinya dalam beberapa bulan terakhir, dia diusir dari bis di Odense. Niqab sendiri adalah pelengkap dari seorang muslimah dengan hijab yang dia kenakan, menutup seluruh wajah kecuali sedikit di bagian mata.

Menurut Amina, sopir bis mengatakan kepadanya bahwa sopir tersebut tidak bisa melihat wajahnya dan dia menolak menerima tiket bis. Dia

“Saya tidak akan menjalankan bis ini, kecuali jika anda keluar. Keluar dari bis sekarang!”Amina mengutip kata-kata dari supir bis itu.

“Saya sangat marah dan tersinggung dan saya hanya bisa menangis.” katanya.

Ketua dewan Fynbus – Torben Andersen, yang juga merupakan penasehat partai sosialis lokal, mengatakan bahwa reaksi dari sopir bis tersebut tidak memuaskan.

“Saya tidak berpikir penghakiman yang diperlihatkan dalam kasus ini sesuatu yang cukup baik,” ujarnya menambahkan, akan tetapi dewan juga bertanggung jawab terhadap masalah ini, karena belum dan tidak adanya panduan yang jelas tentang bagaimana sopir bis harus bereaksi ketika berhadapan dengan wanita muslim yang menggunakan hijab termasuk menutup wajah mereka.

“Ini wilayah abu-abu dimana dewan tidak berkata secara tegas apa yang diinginkan. Tapi saya telah meminta CEO Carsten Hyldborg untuk memastikan bahwa kami memiliki proposal aturan pada pertemuan dewan berikutnya sehingga akan memungkinkan untuk menggunakan tiket bila Anda berkerudung, “kata Andersen.

Dewan Fynbus mungkin tidak setuju dengan penolakan sopir bis terhadap Amina Farah Sulaiman, tapi tidak dengan Alex Ahdrendtsen yang merupakan penasehat pada partai rakyat lokal Denmark.

“Sopir bis sudah melakukan tindakan yang benar dan saya berharap dewan Fynbus dan manajemen perusahaan bis itu menegakkan keputusan dengan benar. Tidak ada yang salah dari sikap sopir bis itu. Kita tinggal di Denmark, dan di Denmark anda harus menunjukkan wajah anda,” kata Ahrendtsen.

Menteri Transportasi Lars Barfoed mengatakan, jika seseorang tidak mau menunjukkan wajahnya, maka ia harus membeli tiket bis jenis lain dan ada tambahan biaya dari itu semua.(fq/politiken)

Zonapikir: Katanya negara pembela HAM tapi nyatanya, muslimah yang menjalankan kebebasannya untuk beragama malah dilarang!!!

Ini menujukkan bahwa HAM hanyalah sebuah alat barat untuk menyebarkan pemahaman-pemahaman kehidupannya yang rusak ke negri-negeri berpenduduk muslim, tidak terkecuali Indonesia.

Pemilu dan Perubahan Kehidupan Masyarakat

businessmanTinggal beberapa minggu lagi, Indonesia akan menyelenggarakan hajatan besar yaitu Pemilihan Umum untuk memilih para wakil rakyat yang akan menduduki kursi DPR-MPR pusat maupun tingkat daerah.

Kampanye para Caleg maupun Partai pun juga semakin memanas dan semakin sering mewarnai media-media iklan di negeri ini mulai dari televisi, radio, internet, baliho-baliho jalan, bahkan disepanjang jalan dipasang banner-banner kecil Photo para caleg beserta partainya dengan berbagai macam aksi dan pose, yang kebanyakan hanya lebih menambah semrawut wajah kota.

Menuju Perubahan

Setiap caleg maupun partai semuanya menjanjikan perubahan agar Indonesia lebih baik. Pertanyaannya mungkinkah terjadi perubahan sementara cara-cara kampanye yang dilakukan masih sama saja dengan pemilu periode sebelumnya, yang dulunya kampanye dengan dangdutan tahun ini kampanye dengan dangdutan lagi, yang dulunya kampanye dengan bagi-bagi kaos, sembako, dan bentuk hadiah lainnya secara gratis pemilu tahun ini pun cara yang sama juga ditempuh, yang dulunya partai Islam berkoalisi dengan partai sekuler demi perolehan suara, di tahun ini juga sama melakukan penjajakan untuk berkoalisi dengan partai sekuler. Jika cara kampanyenya saja tidak ada perubahan, apakah perubahan bisa terwujud?

Selain itu, visi dan misi yang disampaikan para caleg maupun parpol juga masih menimbulkan pertanyaan bagaimana implementasi nyata yang akan dilaksanakan ketika telah memenangkan pemilu. Semuanya menawarkan perubahan Indonesia menuju lebih baik. Namun bagaimana mengimplementasikan perubahan itu agar bisa terwujud, sementara faktor-faktor yang dapat menentukan kesejahteraan bagi masyarakat masih jauh dari harapan; tingkat pendidikan masyarakat masih rendah-sementara angka putus sekolah semakin tinggi, tingkat pelayanan kesehatan masyarakat juga masih sangat rendah sehingga muncul kasus dukun cilik ponari yang bisa menerima pasien hingga 50 ribu orang dalam satu hari, keamanan masyarakat juga masih jauh dari harapan-setiap hari selalu ada saja berita kriminal, dan kekayaan alam di negeri ini pun hampir 90% dikuasai oleh asing melalui mekanisme perundang-udangan yang telah disahkan.

Sehingga dengan sedikit gambaran permasalahan yang ada pada negeri ini, tentu memerlukan sebuah visi dan misi perubahan serta metode implementasi yang jelas, benar dan tepat. Yaitu sebuah visi dan misi berbasis ideologi, apalagi kalau bukan ideologi Islam sebab tidak ada alternatif ideologi lain lagi yang bisa mengantarkan kesejahteraan umat dunia dan akhirat. Ingat ideologi sosialisme sudah lama hancur, sementara ideologi kapitalisme yang dipakai Indonesia sekarang juga sedang sekarat menunggu detik-detik kematiannya.

Pemilu menghasilkan Perubahan?

Sebuah pertanyaan yang mungkin jarang ditanyakan atau dipirkirkan oleh parpol maupun para caleg adalah Apakah pemilu menghasilkan perubahan?

Jawabannya mungkin sudah bisa anda pikirkan; Tidak. Sebab sebagaimana sejarah telah membuktikan bahwa tidak tercatat terdapat perubahan kehipan masyarakat melalui pemilu, semua perubahan terjadi melalui jalur selain pemilu. Seperti di Indonesia kita bisa saksikan reformasi terjadi bukan karena pemilu, tetapi melalui gerakan mahasiswa yang menjalar ke seluruh rakyat Indonesia yang lain.

Lalu apa yang salah dalam pemilu?

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam pemilu, karena sesuai dengan pengertian pemilu; pemilu adalah pemilihan umum untuk memilih pemimpin dan atau para wakil rakyat untuk membuat undang-undang dan menjalankan undang-undang yang telah dibuat tersebut.

Artinya pemilu hanya diperuntukkan untuk memilih orang bukan perbaikan sistem atau penggantian sistem kenegaraan, sementara Indonesia saat ini tidak hanya memerlukan pergantian sosok pimpinan dan wakil rakyat yang memiliki jiwa amanah kepada rakyat dan kepada Allah yang tinggi, tetapi juga pergantian sistem kehidupan yang selama ini diterapkan. Menjadi kehidupan berlandaskan syariah Islam. Mengapa, karena kehidupan berlandaskan syariah dengan menerapkan seluruh syariah Allah secara kaffah (menyeluruh) merupakan konsekuensi keimanan bagi setiap muslim. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman:

TQS. Al. Maidah ayat: 50. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?

Perubahan Masyarakat

Merobah masyarakat tentu tidak sama caranya dengan merobah individu, karena komponen pembentuk individu berbeda dengan komponen pembentuk masyarakat.

Masyarakat di bentuk oleh; kumpulan individu-individu, pemikiran yang sama, perasaan yang sama, serta sistem hukum yang diberlakukan ditengah mereka. Satupun dari komponen ini tertinggal, maka belum bisa dianggap sebagai sebuah masyarakat.

Untuk itu juga perubahan kehidupan masyarakat tidak bisa terwujud jika hanya merobah/memperbaiki satu komponen saja. Misalnya opini yang sering dilontarkan “jika semua pejabat di DPR adalah individu-individu yang baik maka akan keluarlah sistem hukum yang baik dan kesejahteraan serta kedamaian masyarakat akan terwujud.” Jelas opini seperti ini tidak bisa diambil patokan karena masih ada komponen masyarakat lain yakni pemikiran dan perasaan yang mesti juga harus dirobah.

Pemikiran dan perasaan masyarakat harus dirobah agar percaya diri dalam menjalankan ideologi yang dia miliki, yaitu Ideologi Islam sebagai konsekuensi keimanan seorang muslim, bukan memakai paham hidup liberal/ atau hidup serba bebas sesuai dengan pendapatnya sendiri yang cenderung hanya memuaskan hawa nafsu. Pemikiran kaum muslim (mulai dari pejabat s/d masyarakat awam) harus dirobah agar tidak menggantungkan pembiayaan negara melalui pinjaman utang ke pihak asing-yang akhirnya hanya memberatkan APBN untuk membayar bunga utangnya saja, dirobah agar tidak menyerahkan penguasaan sumber daya alam yang ada dinegeri ini kepada swasta asing-tetapi dikelola oleh negara untuk kepentingan masyarakat sehingga negara memiliki sumber andalan pendapatan yang sangat besar, dirobah agar tidak membiarkan kezaliman terus diberlakukan atas mereka melalui Undang-undang yang melanggar hak kehidupan masyarakat dan tidak berlandaskan pada Al Quran dan AS Sunnah-seperti undang-undang Penanaman Modal Asing, Undang-undang Badan Hukum Pendidikan, Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi, dan Undang-undang lainnya.

Tentu perubahan-perubahan mendasar ini memerlukan partisipasi dan kerja keras semua elemen masyarakat. Namun apakah perubahan ini bisa tercapai hanya melalui mekanisme pemilu setiap 5 tahun? Jawabannya ada pada diri Anda sendiri!!