Jangan Berbohong, Dosa Looo!!!

Seorang Muslim sejatinya bukanlah pembohong atau orang yang biasa melakukan kebohongan. Bahkan seharusnya ia tidak pernah berbohong; kecuali dalam hal yang dibenarkan oleh syariah, seperti pada saat berperang melawan musuh atau demi mendamaikan dua orang Muslim yang sedang berselisih. Sebaliknya, seorang Muslim wajib selalu berkata dan bersikap jujur/benar. Apalagi jika dia adalah seorang pemimpin umat, tokoh masyarakat, atau malah seorang pejabat atau penguasa.

Berbohong jelas perbuatan dosa. Sebaliknya, berkata dan berperilaku jujur/benar adalah wajib. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan jadilah kalian beserta orang-orang yang jujur/benar (QS at-Taubah [9]: 119). Baca entri selengkapnya »

Iklan

Jika Ada Cara Untuk Menahan Diri, Mengapa Harus Marah-marah kepada Anak?

Dalam pandangan Islam, anak adalah anugerah yang diberikan Allah pada para orang tuanya. Kehadiran anak disebut sebagai berita baik (Maryam:7), hiburan karena mengenakan pandangan mata (Al-Furqan:74), dan perhiasan hidup di dunia (Al-Kahfi:46). Anak juga sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah, pelanjut, penerus dan pewaris orang tua, tetapi juga sekaligus ujian (At-Taghabun:15). Sebagai amanah, semua yang dilakukan orang tua terhadap anaknya (bagaimana merawat, membesarkan dan mendidiknya) akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Itulah menjadi penting memahami bagaimana mendidik anak, mendoakannya selalu, sekaligus senantiasa menanamkan kesabaran saat mendidik mereka.

Munculnya sikap penolakan anak balita terhadap lingkungan sosialnya adalah bagian dari proses perkembangan yang alamiah. Walau tak semua anak bersikap demikian. Gejala seperti ini biasanya dimulai saat anak berusia 2,5 tahun sampai 3 tahun. Anak-anak ini mulai tumbuh sebagai pribadi, keakuannya mulai muncul dan ia mulai ingin membedakan dirinya dengan orang lain. Pada saat itu pula, sikecil sudah mulai mencoba keinginannya sendiri. Hal itulah yang lantas dipersepsi oleh para orang tua bahwa anak  sudah mulai sulit diatur dan dianggap tidak patuh lagi. Tahapan perkembangan yang ditandai oleh ’perilaku sulit’ ini Insya Allah akan mereda pada usia 4-5  tahun, seiring dengan perkembangan kemampuan berfikirnya dan aturan-aturan yang diterapkan orang tua. Baca entri selengkapnya »

Awas…!!! Ada Setan dalam Cermin Anda

Cermin, sebuah benda yang memantulkan wajah dan perawakan serta penampilan keseluruhan seorang wanita dari atas sampai bawah. Cermin jelas sangat dibutuhkan dan diperlukan semua wanita di seluruh dunia. Wanita akan melihat dirinya di kaca, di saat itu pikirannya akan mulai menghayal ini dan itu, dan setanpun mulai membisiki si wanita dengan bisikan yang seru namun perlahan-lahan diikuti sang wanita seperti “alangkah baiknya bila pipiku merona merah seperti artis sinetron si anu..” maka dibubukanlah perona pipi pada wajahnya. Selain itu kejengkelan melihat kelopak mata yang sipit menimbulkan kenginan kuat untuk merubah kelopak matanya agar sedikit lebih lebar yang tentunya akan membuat banyak lelaki terpana.

Ketidakpuasan sang wanita dapat juga terlihat disaat melihat postur tubuhnya yang sudah langsing. Sang wanita mencoba untuk lebih langsing lagi dan rela berjam-jam menunggu antrian di sebuah klinik kelangsiangan walaupun mendapat antrian ke-38 setelah 5 jam menunggu untuk mendapatkan suntikan pelangsing. Terkadang sang suster dan dokter berkerinyit bingung, wanita langsing ini mau diapakan lagi agar tampak lebih langsing. Dengan tubuh yang begitu langsing, apa lagi yang harus dilangsingkan, seketika itu pun kepuasan serta kepercayaan diri terpancar di wajah sang wanita. Baca entri selengkapnya »

Melumuri Tubuh dengan Kotoran Demi Menghindari Maksiat

Ada seorang pemuda yang kerjanya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini di kenal dengan nama “Faraqna” oleh orang-orang. Walau pun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sangat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pati menyenanginya.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besat, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya : “faraqna-faraqna”, tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatanya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersilakan masuk kedalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta dalam hatinya. Lalu si wanita itu berkata : “Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan dirumah ini sekarang kosong. ” Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat sesuatu dengan dirinya. Pemuda ini menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menakut-nakuti dengan azab yang pedih di sisiNya. Tetapi sayang, nasehat itu tidak membuahkan hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita makin berhasrat. Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang… Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: Baca entri selengkapnya »

Bila Nyawa Telah didownload

Ketika membuka facebook saya, ada pesan/tulisan menarik yang saya dapatkan dari salah seorang teman yang mengirimkan tulisan dari sebuah milis yang diikutinya, tulisan itu berjudul “Bila Nyawa Telah di Download”, isinya sebagai berikut;

Ada yang menarik ketika BJ Habibie menjelaskan tentang kepergian istri tercintanya, Ibu Ainun, dalam buku terbarunya. Dia menjelaskan dengan istilah-istilah teknologi, ciri bapak yang satu ini banget. Habibie menggambarkan ketika Ibu Ainun meninggal sejatinya Tuhan telah “mendownload” nyawa (roh) nya. Habibie mengatakan bahwa manusia itu seperti komputer yang terdiri atas hardware dan software (Operating System). Hardware-nya adalah tubuh dan software-nya adalah roh atau nyawa.

Bagi kita yang pernah mempunyai komputer yang rusak parah dan tidak bisa dipergunakan lagi dan kita ingin memback-up data, tentunya akan gampang memahami kematian. Hardware komputer seperti raga manusia. Saat hardware tidak bisa digunakan lagi maka komputer harus dibuang. Begitu juga bila raga telah rusak dan mati maka jasad harus dikubur.

Namun roh itu seperti software, bukan software sembarangan, tapi sowftware cerdas alias intelligent software. Boleh saja computer rusak, dan kemudian dibuang tapi data dan software masih bisa didownload untuk di back up. Begitu pula saat manusia mati, jasad akan rusak, namun roh ini bisa didownload dan akan tetap ada. Tuhan akan “mendowload” dan menyimpan roh (intelegent software) ini menjadi data abadi di tanganNya. Seperti saat kita menyedot data menggunakan bluetooth, berkendara gelombang elektromagnetik, tanpa perantara, menembus batas ruang.
undefined

Setaip detail data akan terekam dan tersimpan dengan sempurna

Bukan hanya itu, bagi kita yang setiap hari sering simpan-menyimpan data dalam flashdisk atau hardisk akan sangat gampang memahami bagaimana mudahnya Tuhan menyimpan data-data kehidupan kita yang sangat banyak. Kita saja saat ini mampu menyimpan data yang sangat besar dan mengkompresnya kemudian menyimpanya dalam tempat yang kecil. Bila, manusia saja mampu merekam sebegitu besar data dan menyimpanya menjadi bentuk yang mungil, tentunya mudah bagi Tuhan untuk merekam dan mengabadikan semua rekam jejak milyaran manusia, mulai sejak Nabi Adam. Malaikat Rokib dan Atit bukan hanya mencatat tapi juga dengan mudah memvideokan setiap detail tindakan milyaran individu-invidu dan menyimpanya menjadi data yang mungil, kecil. It is very easy for Me (God said)

Apalagi, bila kita sering mengoperasikan computer dan mengetahui istilah history atau register, mudah bagi kita memahami bagaimana Tuhan akan mengetahui apa-apa yang telah kita lakukan. Dalam history software computer, bila kita buka, kita akan mengetahui digunakan untuk apa saja, dan telah membuka apa saja software tersebut. Begitu pula bila nyawa kita adalah software, maka sejatinya ada historical yang disimpan oleh software ini, tentang apa-apa yang telah dilakukan dan apa yang difikirkan. Masuk akal kan?

Kemudian saat kita meninggal, Tuhan akan mendownload nyawa kita, berikut dengan informasi detailnya (historical). Semua detail akan tersimpan dengan sempurna, tak ada satupun yang luput.

Hingga pada saatnya tiba, saat kita dikumpulkan di padang mahsyar, software akan di reinstall, semua data akan dibuka ,semua dipertontonkan kepada kita. Apa-apa yang pernah kita lakukan akan terbuka semua. Rekaman-rekaman video malaikat Rokip-Atit yang selama ini disimpan akan diputar. Kita akan melihat semua video-video diri kita itu. Dan tentunya kita akan dimintai pertangung jawaban. Masuk akal bukan? Semua tak ada yang luput.

===***===

Namun kita sebagai manusia bukanlah komputer. Komputer tidak bisa memilih suatu hal baik atau  buruk, sementara kita sebagai manusia diberikan bekal oleh Allah Swt. akal yang mampu memilah mana saja hal yang baik dan mana saja hal yang buruk.

Permasalahannya bagaimana agar kita bisa memilih hal-hal yang baik dan menghindari hal-hal yang buruk. ?

Tentu jawabannya hanya satu yaitu dengan MENUNTUT ILMU, sehingga kita semakin tahu mana yang baik dan mana yang buruk, semakin tahu mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan, mana yang boleh dimakan-minum dan mana yang tidak, dan lain sebagainya. Serta terhindar dari perhitungan hisab yang akan merugikan kita kelak di Yaumul Hisab

Bocah dan Ulat

Seorang anak manis dan imut bermain di taman. Betapa bunga-bunga telah berhasil ia baui, warna-warnanya ia kagumi, dedauanan melambai mirip tarian. Taman itu telah membuatnya jatuh hati. Dari balik ketiak dedaunan, matanya mengamati gejala. Gulungan seumpama cerutu bersembunyi disana. Ada lendir yang memenuhinya, mahluk serupa ulat berada di dalamnya. Terperangkap. Ringkih. Sakit. Malang.

”Ulat,…. Kamu kasihan banget” Anak itu berujar.

Sosok ulat itu menjijikkan, jelek rupa. Bukan seperti mawar, melati maupun jingga pelangi yang dirindukan katak dan serangga. Tak ada satu pun daya tarik padanya, selain gundukan rasa iba yang terlanjur memasuki relung hati si anak yang manis itu.

”Sebentar ya Ulat, aku akan menolongmu”

Si anak pun memutuskan untuk turun tangan dan ’membebaskan’ si ulat (kepompong) dari selubung cangkangnya. Si anak itu bersumpah serapah, karena cangkang keras telah mengikat ulat di taman yang damai. Lendir cangkang telah membuat ulat sesak bernafas dan gagal merasakan nikmatnya udara bebas.

”Huhhh… gara-gara cangkang dan lendir ini, ulat jadi susah nafas deh”

Maka misi anak itu pun final. Si ulat itu telah keluar dari cangkangnya. Lendir-lendir itu tinggal sisa. Si ulat itu menampakkan dirinya. Ia adalah sesosok mahluk bersayap dan memiliki warna warni, entah kenapa memburam. “Ulat bersayap” itu tidak mampu terbang, sulit, tetap ringkih…. cacat.

Ahhh…. Maka andai bunga-bunga boleh bicara, angin dibiarkan mencerca, ingin keduanya berkata:

”Duhai anak yang manis…. Niatmu mulia, namun caramu keliru. Andai kau tau, bahwa rasa sakit di cangkang itu adalah bagian dari hidup yang tidak sia-sia. Setelah cangkang itu, keindahan menunggunya. Namun sekarang, ia cacat untuk selamanya, karena kau ’membebaskan’nya dari sakit yang bisa ditahannya dan tidak lama”

—– THE END—–

Menghargai proses, menahan sakit, sabar dan tidak cengeng merupakan bagian dari metamorfosis kehidupan. Niat baik tidaklah cukup bagi misi ’penyelamatan’. Butuh matang pikir, mantap usaha untuk suatu tujuan mulia.

”Rasa sakit itu, jika kau sabar dan tegar, maka ia akan menjelma menjadi kekuatan”

”Kita harus sabar menunggu hujan, untuk melihat pelangi sesudahnya”

KISAH SESENDOK MADU

Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit ditengah kota.

Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatucara untuk mengelak, “Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu.Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mataseseorang. Sesendok airpun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akandiisi madu oleh seluruh warga kota.”

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air.Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengansi A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi: “Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allahdisertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yangmengikutiku (QS 12:108)

Dalam redaksi ayat diatas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata,baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.

“Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin(pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)

Perhatikan kata-kata “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri.” Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu.” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu.

Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.